
MENULIS bukan sekadar merangkai kata, melainkan kekuatan strategis bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman, membongkar ketidakadilan, dan mendorong perubahan sosial. Menyadari potensi besar tersebut, Akademi Perempuan NasDem (APN) menyelenggarakan APN Woman’s Writing Clinic dengan tema Perempuan menulis, agensi strategis.
Program ini dirancang sebagai rangkaian pengembangan kapasitas bagi perempuan dalam membaca persoalan sosial secara kritis dan mengolahnya menjadi gagasan yang berorientasi pada perubahan. Kegiatan dimulai dengan sesi Pra-Clinic pada Jumat, 16 Oktober 2026, secara daring, yang mengusung tema khusus Feminisme Pancasila sebagai lensa analisa sosial.
Meneladani Semangat Kartini di Era Modern
Ketua Bidang Perempuan dan Anak sekaligus Ketua APN, Amelia Anggraini, menyatakan bahwa program ini meneladani sosok RA Kartini. Melalui surat-suratnya, Kartini membuktikan bahwa pemikiran yang dituangkan dalam tulisan mampu melampaui zamannya dan menjadi sumber inspirasi lintas generasi.
“Gagasannya terus dibaca dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya hingga kini,” ujar Amelia, yang juga merupakan Anggota Komisi I DPR RI.
Semangat tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan perempuan saat ini, mulai dari ketimpangan pembagian kerja perawatan, keterbatasan akses ekonomi, kekerasan berbasis gender, hingga rendahnya keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan. Menulis dipandang sebagai soft power yang mampu memengaruhi cara masyarakat memahami persoalan tanpa harus selalu bertumpu pada kekuasaan formal.
Menulis sebagai Instrumen Kepemimpinan
Pengarah APN sekaligus Ketua Bidang Migran DPP NasDem, Eva Sundari, menekankan bahwa perempuan tidak perlu menunggu jabatan formal untuk memimpin perubahan. Melalui pengetahuan dan tulisan, perempuan dapat membangun kesadaran publik dan memengaruhi arah kebijakan.
“Melalui pengetahuan, gagasan, dan tulisan, perempuan dapat membangun kesadaran serta memengaruhi arah kebijakan dan kehidupan masyarakat,” tegas Eva Sundari.
Pada sesi Pra-Clinic, Eva Sundari hadir sebagai narasumber utama dengan dipandu oleh Arimbi Heroeputri (Komisioner Komnas Perempuan periode 2007-2014) sebagai moderator. Peserta diajak mendalami Feminisme Pancasila sebagai lensa untuk menghubungkan pengalaman personal perempuan dengan struktur ketimpangan, relasi kuasa, dan cita-cita keadilan sosial.
Tahapan Program dan Output
Rangkaian APN Woman’s Writing Clinic terbagi dalam tiga fase utama:
- Pra-Clinic (16 Oktober 2026): Fondasi perspektif dan penyiapan gagasan berbasis analisa sosial.
- Writing Clinic (22 Oktober 2026): Fokus pada teknik penulisan opini dan op-ed, penguatan argumen, serta penggunaan data.
- Post-Clinic (29 Oktober-19 November 2026): Tahap penyuntingan, finalisasi draf, dan pengembangan peluang publikasi di media massa.
Melalui proses intensif ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan agensi untuk mendefinisikan persoalan publik dan menawarkan solusi nyata bagi masa depan Indonesia. Program ini juga menjadi ruang tumbuhnya jejaring penulis perempuan yang solid.
Perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil. Sebagaimana filosofi kepemimpinan mata air, tulisan menjadi cara untuk mengalirkan pengetahuan dan menyuburkan kesadaran bagi generasi mendatang. (I-2)
