Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Ditutup Mulai 17 Oktober 2026 Imbas Karhutla
Ilustrasi(MI/Heri Susetyo)

PENGELOLA Taman Hutan raya (Tahura) R Soeryo menutup jalur pendakian ke Gunung Arjuno dan Welirang, menyusul kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lereng kedua gunung tersebut.

Dalam pengumuman yang dikeluarkan UPT Taman Hutan Raya (Tahura) R Soerjo disebutkan bahwa pendakian untuk Gunung Arjuno dan Welirang untuk sementara ditutup mulai 17 Oktober 2026.

“Untuk sementara ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi di Surabaya, Sabtu (17/10).

Penutupan dilakukan akibat karhutla yang terjadi lereng Gunung Arjuno dan Welirang dalam beberapa hari ini. Jalur pendakian yang biasa dipergunakan pendaki praktis tertutup karena kebakaran.

Selain itu, kata Jumadi, juga untuk keselamatan para pendaki. Sambil menunggu petugas melakukan pemadaman di kawasan Arjuno dan Welirang.

Hingga kini petugas masih berusaha menaklukkan api secara manual dengan menambah personel di lapangan. Area yang terbakar meliputi Putuk Bulak, Gua Gambir, Tung Wulung, Anjat, dan Gunung Ringgit. Seluruh titik tersebut berada di kawasan Tahura Raden Soerjo, Arjuno-Welirang.

Kobaran api mulai terlihat jelas setelah Magrib. Dari kawasan Tol Pandaan, api di sekitar Gunung Arjuno bahkan terlihat cukup besar. Sejak Jumat, sekitar 27 hingga 30 personel dari Polisi Hutan, Manggala Agni, dan relawan peduli api diterjunkan untuk melakukan pemadaman manual.

Sampai saat ini api masih belum terkendali sepenuhnya. Pemadaman tetap dilanjutkan pagi ini. Kami menambah personel, baik dari BPBD kabupaten maupun provinsi, yang akan bergabung dengan tim lain yang sudah ada di atas.

“Angin kencang menjadi kendala bagi petugas melakukan pemadaman, apalagi medan di Arjuno sangat berat jurang dan terjal, sulit dijangkau oleh petugas,” katanya.

Kondisi tersebut berbeda dengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang sebagian didominasi sabana dan memiliki akses jalan lebih dekat ke beberapa area rawan kebakaran.

Di Arjuno, keterbatasan akses membuat tangki air tidak dapat dibawa mendekati lokasi kebakaran. Karena itu, petugas lebih banyak mengandalkan pemadaman secara manual.

Pemadaman juga lebih banyak dilakukan pada malam hari karena titik api lebih mudah terlihat. Pada siang hari, petugas lebih sulit mendeteksi api karena yang tampak sebagian besar hanya bara.

“Bantuan pemadaman udara dibutuhkan karena medan menyulitkan petugas menjangkau sejumlah titik api,” katanya.(FL/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *