
MENTERI Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa Indonesia memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang, bahkan dapat ditarik hingga 2 juta tahun lalu.
Ia mengungkapkan bahwa sekitar 60% temuan fosil manusia purba seperti Pithecanthropus erectus dan Homo erectus di seluruh dunia berada di Indonesia. Hal ini termasuk penemuan pertama oleh Eugène Dubois pada tahun 1891 di Trinil, Jawa Timur.
“Ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang tua sekali. Kalau dari sisi arkeologi dan paleoantropologi, itu bisa ditarik sampai jutaan tahun,” kata Fadli dalam Kuliah Umum Indonesia sebagai Mega Diversity Kebudayaan yang digelar Media Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (17/10).
Fadli melanjutkan, sejak memasuki era Homo sapiens hingga sekarang, nenek moyang bangsa ini sudah mampu menghasilkan karya dan ekspresi yang menakjubkan.
Ia mencontohkan lukisan naratif tertua di dunia yang berada di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, yang berusia sekitar 51.200 tahun. Selain itu, piktograf yang ditemukan di Lidah Ajer, Sumatra Barat, diperkirakan berumur 60.000 hingga 73.000 tahun. Ada pula peninggalan purba di Gua Harimau, Sumatra Selatan, yang berusia sekitar 22.000 tahun.
“Di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, umurnya mencapai 67.800 tahun, dan ini diukur menggunakan metode yang presisi,” ujar Fadli.
Tak hanya itu, di Sangkulirang, Kalimantan Timur, masyarakatnya sudah mencurahkan ekspresi melalui rock art sejak sekitar 2.500 tahun lalu.
“Data ini saya gunakan sebagai bagian untuk melakukan klaim bahwa kita sebenarnya termasuk salah satu yang tertua di dunia,” ungkapnya.
Fadli menilai, berbagai peninggalan sejarah purba tersebut menjadi narasi besar betapa kaya dan beragamnya sejarah Indonesia. Menurutnya, peradaban yang berakulturasi ini menjadikan Indonesia lebih tepat dipandang sebagai negara peradaban.
“Dengan peradaban yang saling bercampur, Indonesia seharusnya bukan sekadar nation state (negara-bangsa), melainkan civilizational state (negara peradaban),” tuturnya.
Oleh karena itu, lanjut Fadli, masa ketika Indonesia dijajah oleh Belanda hingga Jepang sejatinya hanyalah sebuah interupsi singkat dalam perjalanan panjang peradaban Nusantara.
“Ini yang menurut saya harus kita lihat dalam satu gambaran besar, bahwa Indonesia ini adalah sebuah civilizational state,” pungkasnya. (E-4)
