IHSG Ditutup Anjlok 11 Persen akibat Rencana MSCI Turunkan Klasifikasi Pasar Modal Indonesia
IHSG ditutup melemah tajam 11,57% ke level 5.185,11 setelah MSCI membuka konsultasi potensi penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia.(Dok. Antara)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 11,57 persen pada perdagangan Jumat (16/10/2026) sore. Pelemahan tajam ini dipicu oleh pengumuman MSCI yang membuka konsultasi terkait potensi penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

IHSG merosot 678,67 poin ke posisi 5.185,11, sementara indeks LQ45 justru tercatat naik 81,53 poin atau 13,82% ke level 508,56. Akibat tekanan jual yang masif, perdagangan di bursa domestik sempat terkena trading halt pada sesi pembukaan setelah indeks terkoreksi di atas 8 %.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa langkah MSCI ini didasari kekhawatiran investor global mengenai transparansi kepemilikan saham dan indikasi praktik perdagangan terkoordinasi di Indonesia. “Pasar keuangan mengalami tekanan hebat karena potensi Indonesia dikeluarkan dari indeks utama MSCI jika statusnya turun menjadi Standalone Market,” ujar Nico.

Pelaku pasar menilai belum ada kemajuan konsisten dalam penegakan hukum dan transparansi di pasar ekuitas nasional. MSCI dijadwalkan menerima masukan dari pelaku pasar hingga 30 April 2027 dan akan mengumumkan keputusan final pada atau sebelum 30 Juni 2027.

Seluruh atau 11 sektor di IDX-IC terkoreksi, dengan sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 13,26%. Sektor infrastruktur dan kesehatan juga merosot masing-masing 12,87% dan 12,84%. Sebanyak 812 saham melemah, sementara hanya 11 saham yang menguat.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan bursa regional Asia yang mayoritas menguat mengikuti tren positif di Wall Street. Indeks Nikkei naik 1,66% dan Kospi menguat 2,05%. Di sisi lain, investor global masih mencermati kebijakan suku bunga The Fed dan rilis data PDB China pada pekan depan.

Data perdagangan menunjukkan frekuensi transaksi mencapai 2,11 juta kali dengan volume 66,78 miliar lembar saham senilai Rp31,73 triliun. Saham-saham yang mengalami pelemahan terdalam (top losers) di antaranya APIC, BBKP, BELI, BFIN, dan BHIT. (Ant/Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *