
ES laut Arktik terus mengalami penyusutan yang mengkhawatirkan baik pada musim dingin maupun musim panas. Data satelit terbaru mengungkapkan bahwa sisa es di wilayah kutub tersebut kini menjadi lebih tipis, lebih muda, dan semakin rentan terhadap pencairan. Meski terjadi perlambatan kehilangan es pada musim panas baru-baru ini, para ilmuwan memperingatkan bahwa Arktik dapat mengalami musim panas yang hampir bebas es sebelum tahun 2050.
Pengamatan satelit selama hampir lima dekade menunjukkan transformasi drastis di Arktik. Siklus musiman di mana es terbentuk selama musim dingin dan menyusut pada bulan September tetap berlanjut, namun luas cakupan es telah menurun secara substansial di kedua ujung siklus tersebut.
Rekor Terendah pada 2026
Pada tahun 2026, es laut Arktik mencapai luas minimum tahunannya pada 12 September, dengan cakupan sekitar 4,6 juta kilometer persegi (1,78 juta mil persegi). Menurut data dari NASA dan National Snow and Ice Data Center (NSIDC), angka ini menempatkan tahun 2026 sejajar dengan rekor minimum pada tahun 2008, 2010, dan 2025 sebagai tingkat terendah ke-10 sejak pemantauan satelit dimulai.
Data jangka panjang menunjukkan penurunan yang semakin cepat sejak tahun 2000-an. Pola yang mencolok adalah setiap musim panas dari tahun 2007 hingga 2026 selalu masuk dalam daftar 20 tingkat es laut September terendah dalam catatan sejarah. Rekor terendah absolut masih dipegang oleh pengamatan pada September 2012.
Faktor Cuaca dan Perlambatan Sementara
Menariknya, laju kehilangan es musim panas tidak selalu konsisten. Dalam satu dekade terakhir, cakupan es bulan September relatif stabil dibandingkan penurunan drastis pada periode sebelumnya. Peneliti NASA mengidentifikasi bahwa kondisi cuaca jangka pendek, seperti peningkatan tutupan awan, telah membantu membatasi pencairan tambahan dengan mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai es.
Namun, para ilmuwan menekankan bahwa stabilisasi sementara ini tidak mengubah fakta bahwa cakupan es saat ini tetap jauh di bawah rata-rata historisnya.
Hilangnya Es Tua yang Tebal
Perubahan tidak hanya terjadi pada luas area, tetapi juga pada kualitas es itu sendiri. Arktik kini kehilangan “multiyear ice” atau es bertahun-tahun yang biasanya bertahan melewati setidaknya satu musim cair. Es jenis ini secara historis lebih tebal dan lebih tangguh.
Saat ini, Arktik semakin didominasi oleh “first-year ice” atau es tahun pertama yang terbentuk selama bulan-bulan dingin namun sangat mudah mencair saat musim panas tiba. Penurunan ini juga terlihat pada musim dingin; pada Maret 2026, puncak maksimum tahunan secara statistik menyamai rekor terendah musim dingin yang tercatat pada Maret 2025.
Proyeksi Masa Depan: Arktik tanpa Es
Meskipun pola iklim alami seperti Osilasi Arktik memengaruhi kondisi dari tahun ke tahun, fluktuasi tersebut tidak dapat menjelaskan tren penurunan persisten sejak 1978. Kenaikan suhu global tetap menjadi faktor utama di balik hilangnya es laut secara masif.
Para ilmuwan memproyeksikan bahwa Samudra Arktik bisa menjadi hampir bebas es selama musim panas setidaknya satu kali sebelum pertengahan abad ke-21. Peristiwa ini akan menandai perubahan mendalam pada wilayah yang telah mempertahankan tutupan es musiman selama ribuan tahun.
Ilmuwan mengukur cakupan es menggunakan satelit dengan sensor gelombang mikro pasif. Teknologi ini memungkinkan peneliti menembus tutupan awan dan badai untuk membedakan es laut dari air terbuka secara konsisten, sebuah metode yang telah dimulai sejak peluncuran satelit Nimbus-7 NASA pada 1978. (Sciencedaily/H-3)
