Elektrifikasi Industri Jadi Peluang Baru Percepatan Transisi Energi
Memasuki satu dekade sejak didirikan pada 2016, SUN mencatat pengembangan kapasitas energi surya lebih dari 500 megawatt (MW) melalui lebih dari 400 proyek.(Dok. SUN)

ELEKTRIFIKASI sektor industri menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat transisi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Pemanfaatan energi surya, sistem penyimpanan energi, hingga kendaraan listrik dinilai dapat membantu industri mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil tanpa mengabaikan kebutuhan produktivitas dan daya saing.

Peluang tersebut mendorong perusahaan penyedia solusi energi bersih untuk mengembangkan layanan yang lebih terintegrasi. Salah satunya SUN, yang memperluas bisnis dari pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menuju penyediaan sistem elektrifikasi untuk sektor industri dan komersial.

Memasuki satu dekade sejak didirikan pada 2016, SUN mencatat pengembangan kapasitas energi surya lebih dari 500 megawatt (MW) melalui lebih dari 400 proyek. Portofolio perusahaan mencakup Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand, dengan pelanggan dari sektor pertambangan, semen, barang konsumsi, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, hingga farmasi.

Director of Power SUN Jefferson Kuesar mengatakan pengalaman selama sepuluh tahun menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi dan keandalan pasokan energi.

“Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing. Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan,” ujar Jefferson dalam keterangannya, Kamis (15/10).

Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton karbon dioksida (CO2) per tahun. Perusahaan menyebut angka tersebut setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.

Pengembangan bisnis SUN selanjutnya mencakup integrasi PLTS, sistem penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk mendukung pengelolaan energi dan armada.

Solusi tersebut diarahkan terutama bagi sektor dengan kebutuhan energi dan intensitas operasional tinggi, seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, serta industri barang konsumsi.

Elektrifikasi armada

Salah satu fokus pengembangan SUN adalah elektrifikasi kendaraan operasional industri. Pendekatan ini tidak hanya mencakup penggantian kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik, tetapi juga penyediaan infrastruktur pendukung dan sistem pengelolaan armada.

Melalui lini bisnis SUN Mobility, perusahaan menyediakan kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan, serta pemantauan melalui Fleet Management System.

Director of Mobility SUN Karina Darmawan mengatakan elektrifikasi armada perlu mempertimbangkan keseluruhan kebutuhan operasional perusahaan, termasuk jenis kendaraan, jarak tempuh, kondisi medan, pola perjalanan, dan ketersediaan energi.

“Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur,” kata Karina.

Sebagai gambaran, studi kasus SUN pada salah satu distributor barang konsumsi di Jabodetabek menunjukkan potensi penghematan biaya energi hingga 83,6% per perjalanan melalui penggunaan truk listrik. Perhitungan tersebut menggunakan skenario perjalanan sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00–17.00 serta mempertimbangkan ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.

Dalam skenario yang sama, penggunaan truk listrik juga berpotensi menurunkan total biaya kepemilikan dan operasional sekitar 15%.

Meski demikian, besaran penghematan tersebut merupakan hasil perhitungan untuk kondisi operasional tertentu sehingga tidak serta-merta berlaku bagi seluruh perusahaan atau jenis armada.

Pengembangan PLTS skala besar

Selain elektrifikasi armada, SUN memperkuat pengembangan proyek energi surya berskala besar sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 gigawatt peak (GWp), sebagaimana disebutkan dalam keterangan perusahaan. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan PLTS untuk kebutuhan industri maupun pembangkit berskala besar.

Saat ini, SUN memiliki proyek energi surya dalam tahap pengembangan dengan total kapasitas lebih dari 40 megawatt peak (MWp) yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

Perusahaan juga memperluas perannya sebagai Independent Power Producer (IPP) atau produsen listrik swasta untuk mendukung pengembangan aset energi bersih jangka panjang.

Langkah tersebut diarahkan untuk memperbesar kontribusi sektor swasta dalam penambahan kapasitas energi terbarukan nasional, sekaligus mendukung visi pengembangan energi surya sebesar 100 GWp di Indonesia.

Dalam pengembangan berikutnya, SUN berencana memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, regulator, PLN, asosiasi industri, pengelola kawasan industri, lembaga pembiayaan, mitra teknologi, serta penyedia jasa rekayasa, pengadaan, dan konstruksi.

Integrasi pembangkit energi bersih, penyimpanan energi, elektrifikasi armada, dan sistem digital diharapkan dapat membantu industri meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil. (E-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *