
CUACA ekstrem dan tiupan angin kencang membuat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, semakin sulit ditanggulangi. Hingga Jumat (16/10/2026) malam, kobaran api dilaporkan terus meluas dan telah mendegradasi sedikitnya 100 hektar kawasan hutan lindung.
Amuk si jago merah yang melahap vegetasi kering memaksa 350 personel gabungan dari 42 unsur—terdiri dari relawan, BPBD, TNI, Polri, hingga Perhutani—bekerja ekstra keras untuk memadamkan api dan membuat sekat bakar. Namun, kondisi cuaca di ketinggian yang tidak menentu memaksa tim untuk mengubah strategi demi keselamatan.
Koordinator Posko Penanganan Karhutla Gunung Lawu sekaligus Kabid Operasional SAR Karanganyar, Rosyid Fauzan, menjelaskan bahwa enam Search and Rescue Unit (SRU) telah diterjunkan sejak pukul 06.35 WIB untuk melakukan penanganan manual. Namun, keganasan alam menghambat pergerakan tim di lapangan.
“Penanganan kita berangkat ada enam kru sampai pukul 08.38 WIB dengan metode penyekatan dan penggebyokan manual. Karena angin tidak bersahabat, pada pukul 14.00 WIB semua tim di atas terpaksa kita tarik mundur,” ujar Rosyid.
Berdasarkan pantauan di lapangan, penanganan manual menjadi tidak efektif karena api membesar dengan sangat cepat akibat hembusan angin kencang. Berdasarkan pemetaan peta digital terbaru, titik api terbesar saat ini berada di sebelah selatan Puncak Gede dan terus bergerak dinamis membakar area hutan lindung.
Antisipasi Jalur Pendakian Terancam
Pergerakan api yang kian masif kini mulai mengancam keselamatan kawasan sekitar, terutama jalur pendakian Cemoro Kandang dan wilayah Ngargoyoso. Menanggapi ancaman tersebut, Posko Penanganan Karhutla bergerak cepat mendirikan dua Pos Aju baru, yakni Pos Aju Tambak di Ngargoyoso dan Pos Aju Cemoro Kandang. Sementara itu, Posko Induk tetap disiagakan di Gondosuli, Tawangmangu.
Sebagai langkah benteng pertahanan, tim gabungan memfokuskan operasi pada penyekatan dan pelebaran jalur pendakian Tambak. Jalur dari Pos 2 hingga Pos 4 dilebarkan hingga 3 sampai 4 meter. Upaya ini dilakukan untuk mencegah api ‘melompat’ menyeberangi jalur pendakian ke area yang lebih luas.
Seiring situasi yang kian tidak menentu, pihak Posko bersama Forkopimcam dan Polres Karanganyar memperketat seleksi bagi personel atau relawan yang hendak naik membantu pemadaman.
“Untuk antisipasi keamanan, kami sepakat relawan yang hendak ikut pemadaman harus memenuhi kualifikasi ketat yakni sehat jasmani, fisik prima, APD lengkap, serta membawa P3K pribadi,” tegas Fauzan.
Ia menambahkan, bagi mereka yang tidak memenuhi kualifikasi tersebut dilarang keras untuk naik. Hal ini dikarenakan cuaca di puncak gunung dapat berubah dalam hitungan detik, di mana api yang semula kecil bisa tiba-tiba membesar dan membahayakan nyawa petugas. (H-2)
