
NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup merosot pada akhir sesi perdagangan Kamis (15/10). Berdasarkan data pasar, rupiah terdepresiasi sebesar 35 poin atau setara 0,20% ke tingkat Rp17.938 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di posisi Rp17.903 per dolar AS pada penutupan sesi sebelumnya.
Pelemahan ini dipicu oleh dinamika inflasi Amerika Serikat (AS) yang memicu penguatan greenback di pasar global, di tengah upaya stabilisasi yang terus dilakukan oleh Bank Indonesia.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
1. Bayang-bayang Suku Bunga Tinggi The Fed
Tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, bersumber dari rilis data ekonomi AS. Inflasi AS periode September 2026 tercatat naik menjadi 3,7% secara tahunan (year-on-year/YoY), melampaui angka Agustus yang berada di level 3,4%.
Lonjakan inflasi tersebut memperkuat dugaan bahwa bank sentral AS (The Fed) bakal mempertahankan rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang (higher for longer), bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa lonjakan inflasi di Negeri Paman Sam tersebut berdampak langsung terhadap arus modal pasar keuangan.
“Kondisi ini berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ungkap Amru di Jakarta, Kamis (15/10).
2. Ketahanan Konsumsi Domestik dan Arus Valas
Di dalam negeri, Bank Indonesia terus mengawal pergerakan rupiah melalui serangkaian tindakan stabilisasi. Meskipun rupiah melemah, indikator fundamental ekonomi nasional dinilai masih cukup solid, yang ditunjukkan oleh tren positif pada sektor ritel.
“Penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3% secara tahunan, meningkat dari 1,1% pada Juli, sementara penjualan eceran September diprakirakan tumbuh 1,4%,” tambah Amru.
Performa penjualan ritel tersebut menggambarkan daya beli dan konsumsi masyarakat yang relatif stabil. Meski begitu, investor tetap bersikap waspada terhadap pergerakan modal asing serta kebutuhan valuta asing harian yang memengaruhi dinamika penawaran dan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Pergerakan Kurs JISDOR Bank Indonesia
Sejalan dengan penutupan pasar spot, nilai tukar acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia turut mencatatkan penurunan. Kurs acuan JISDOR berada di level Rp17.948 per dolar AS pada Kamis (15/10), melemah dari posisi hari sebelumnya di level Rp17.898 per dolar AS.
- Kurs Spot Rupiah: Rp17.938 per dolar AS (Melemah 0,20%)
- Kurs JISDOR BI: Rp17.948 per dolar AS
- Inflasi AS (Sep 2026): 3,7% YoY (Naik dari 3,4% pada Agu 2026)
- Proyeksi Ritel Domestik (Sep 2026): Tumbuh 1,4% YoY
(ANT/E-4)
