
Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Beniyanto Tamoreka, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam mempercepat peningkatan produksi minyak nasional. Optimalisasi potensi minyak domestik dinilai sebagai langkah mendesak untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan ketergantungan pada impor.
Beniyanto menyoroti tiga strategi utama yang diusung pemerintah, yakni penerapan teknologi pada sumur tua, pengelolaan sumur tidak aktif (idle), serta percepatan proyek migas yang telah mengantongi Plan of Development (POD). Langkah ini diharapkan mampu memperkecil kesenjangan antara produksi dalam negeri dan kebutuhan nasional yang terus meningkat.
“Saya kira langkah yang disampaikan Menteri ESDM ini sangat tepat dan perlu didukung. Kita mempunyai lapangan minyak yang masih bisa dioptimalkan. Semua potensi ini harus segera didorong agar memberikan tambahan produksi bagi negara,” ujar Beniyanto dalam keterangannya, Kamis (15/10).
Optimalisasi Teknologi dan Sumur Idle
Menurut Beniyanto, perluasan teknologi pada lapangan eksisting sangat krusial untuk mengangkat cadangan yang tersedia. Namun, ia mengingatkan bahwa pengaktifan kembali sumur idle harus dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan aspek teknis, keekonomian, dan keselamatan operasi.
Selain itu, ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam menata sumur minyak rakyat. Setelah sukses di Sumatera dan Jawa, Bahlil kembali menyetujui pengelolaan sumur rakyat di Aceh pada Oktober ini.
“Ini perkembangan positif. Sumur minyak rakyat yang sebelumnya di luar sistem mulai ditata dan memberikan tambahan produksi. Kita berharap langkah ini diperluas ke daerah lain. Jangan sampai potensi minyak kita ada, tapi tidak dimanfaatkan optimal,” tambahnya.
Percepatan Proyek Strategis dan Eksplorasi
Beniyanto juga menekankan pentingnya koordinasi antara Pemerintah, SKK Migas, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mengatasi hambatan investasi dan perizinan. Ia menegaskan bahwa kegiatan eksplorasi harus tetap diperkuat guna menemukan cadangan baru demi keberlanjutan jangka panjang.
Beniyanto menegaskan ukuran keberhasilan bukan sekadar jumlah sumur yang dibor, melainkan volume tambahan barel minyak yang masuk ke produksi nasional secara nyata. Ia berharap strategi ini segera membuahkan hasil yang terukur, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang memprioritaskan swasembada energi.
“Presiden Prabowo sudah memberikan arah yang jelas mengenai swasembada energi. Semakin besar kemampuan kita memproduksi minyak sendiri, semakin kuat ketahanan energi nasional kita,” pungkasnya.
