Walhi sebut Korporasi Asing terkait Karhutla di Sumatra dan Kalimantan
Karhutla.(Antara)

WALHI menyebut terdapat perusahaan kepemilikan terhadap korporasi asing dengan sebaran titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tertinggi dan menunjukkan pola yang konsisten.

Keterlibatan entitas induk maupun pemegang saham asing tersebut berkedudukan di negara-negara tetangga, khususnya Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan beberapa yurisdiksi luar kawasan seperti British Virgin Island (BVI), Samoa, Korea Selatan, dan India.

“Tadi kami bilang di awal bahwa ada 9 korporasi dengan hotspot tertinggi, punya pemegang saham atau induk di luar negeri,” kata

Perusahaan yang berafiliasi dengan modal asing Singapura antara lain PT Kayung Agro Lestari, PT Panca Surya Agrindo, Globalindo Alam Perkasa, PT Finnantara Intiga, PT Hutan Ketapang Industri, PT Sumber Mardhika Graha (Singapuran dan Cayman), PT Arjuna Utama Sawit (Singapura dan Indonesia). Sementara dari India yakni PT Hermes Sugar Indonesia, dan PT Mayawana Persada dari BVI-Samoa.

“Kemudian pemilik manfaat lintas yuridiksi ini mempersulit sebenarnya proses penegakan hukum lingkungan. Jadi ada beberapa sebenarnya tantangan ketika kita akan ngomongin soal penegakan hukum lingkungan ketika kemudian perusahaan-perusahaannya terdaftar di yuridiksi hukum di luar Indonesia,” ungkap Uli.

Walhi juga menelusuri negara asal atau negara penerima manfaat (beneficial owner) dari 372 perusahaan yang telah dilaporkan kepada Presiden, dengan fokus pada perusahaan yang terafiliasi dengan grup yang berbasis di Malaysia dan Singapura.

Setidaknya ada 27 perusahaan sawit asal Malaysia dan 66 perusahaan asal Singapura dengan rincian 52 perusahaan sawit dan 14 perusahaan dengan izin PBPH. 

Perusahaan-perusahaan yang terdaftar berasal dari Singapura, seperti Sinar Mas (termasuk APP) (26 perusahaan), Wilmar (21 perusahaan), Musim Mas (6 perusahaan), RGE/APRIL (5 perusahaan), First Resources (2 perusahaan), Salim Group (2 perusahaan), Goodhope Asia Holdings Limited (1 perusahaan), Premier Palmoil Energy Pte Ltd (1 perusahaan), Salween Investment Pte Ltd (1 perusahaan), dan Nordic Forest Development Holdings Pte Ltd (1 perusahaan). 

Sementara itu, perusahaan dari Malaysia meliputi Sime Darby (9 perusahaan), Genting Group (8 perusahaan), BHD Group (6 perusahaan), Lion Group (2 perusahaan), Jcorp (1 perusahaan), dan Synergy Drive (1 perusahaan). Secara keseluruhan, total perusahaan dari seluruh afiliasi grup tersebut berjumlah 93 perusahaan.

Sebagai catatan, meski grup usaha seperti Sinar Mas, Wilmar, dan Salim Group dikenal berasal dari Indonesia, secara hukum mereka berbasis di Singapura karena induk usaha global mereka terdaftar, berkantor pusat, dan tercatat di Bursa Efek Singapura (SGX). (Iam/P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *