
IRAN dilaporkan tengah meningkatkan intensitas serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz dan Teluk Persia. Langkah ini dinilai sebagai upaya Teheran untuk memulihkan pengaruh strategisnya atas jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia tersebut.
Sejak akhir September, terjadi lebih dari selusin serangan terhadap kapal komersial. Eskalasi ini berdampak langsung pada penurunan volume minyak yang melintasi selat dan menjaga harga minyak mentah tetap bertengger di atas US$100 per barel.
Sikap Donald Trump Menjelang Pemilu Sela
Di tengah ketegangan yang meningkat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa dirinya tidak memiliki rencana untuk menyerang Iran sebelum pemilihan sela yang dijadwalkan pada 3 November mendatang. Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran bahwa lonjakan biaya energi dapat merugikan Partai Republik di DPR maupun Senat.
“Kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum Pemilihan Sela di Amerika Serikat,” tegas Trump melalui platform Truth Social. Ia menambahkan bahwa pemerintahannya sedang melakukan diskusi produktif dengan Teheran dengan tujuan utama memastikan negara tersebut tidak memperoleh senjata nuklir.
Hormuz sebagai Garis Merah Strategis
Bagi Teheran, kendali atas Selat Hormuz adalah harga mati di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi AS. Kepala Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahmed Vahidi, menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan garis merah strategis Iran.
“Tidak ada kekuatan ekstra-regional yang berhak mengancam, mempertahankan kehadiran yang mendominasi, atau mencampuri urusan di sini,” tulis Vahidi dalam unggahannya di media sosial X.
Data dari Kpler menunjukkan bahwa volume minyak yang melintasi selat tersebut rata-rata mencapai 13,1 juta barel per hari pada akhir September atau sekitar 80% dari volume sebelum konflik pecah. Namun, arus lalu lintas melambat drastis bulan ini, dengan hanya tujuh tanker yang melintas pada Selasa lalu–angka terendah sejak Juli.
Insiden Terbaru dan Blokade AS
Laporan dari UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat lonjakan insiden dalam beberapa hari terakhir:
- Sabtu: Penjaga Nasional Emirat Arab menyelamatkan 22 pelaut India setelah kebakaran tanker minyak. Di hari yang sama, IRGC mengeklaim ada supertanker terkena ranjau laut karena melewati rute yang tidak diizinkan.
- Minggu: Enam kapal komersial dilaporkan diserang di sekitar selat, menandakan jumlah insiden harian tertinggi sejak perang dimulai.
- Peringatan Radio: IRGC mengeluarkan peringatan via radio VHF kepada kapal-kapal yang berlabuh di perairan Emirat untuk segera meninggalkan area tersebut.
Di sisi lain, militer AS terus menegakkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. US Central Command melaporkan telah melumpuhkan kapal kargo M/V Ocean Molica (Arika Sun) berbendera Panama di Teluk Oman menggunakan amunisi presisi setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan blokade.
Analis menilai blokade AS sangat efektif, karena September menjadi bulan pertama Iran tidak memuat minyak mentah sama sekali ke tanker sejak pelacakan data dimulai pada 2013. Namun, Teheran membalas dengan ancaman keras. Kepala negosiator Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa jika Iran tidak bisa mengekspor minyak, tidak ada negara lain di kawasan tersebut yang akan diizinkan melakukannya. (CNN/I-2)
