Serangan Siber Hantam Sistem Pendingin Ratusan Supermarket di Prancis
Serangan siber berskala besar meretas sistem pendingin di ratusan supermarket Prancis. Ribuan makanan busuk terbuang dan memicu potensi bahaya kebakaran.(AFP)

SERANGAN siber berskala besar melumpuhkan sistem pendingin di ratusan gerai supermarket terkemuka di Prancis. Peretasan tersebut menyebabkan suhu lemari pendingin melonjak drastis, hingga memaksa pengelola membuang bahan makanan yang membusuk serta memicu kekhawatiran terkait keamanan pangan nasional.

Jaringan ritel besar seperti E. Leclerc, Intermarche, dan Cooperative U mengonfirmasi gerai mereka menjadi sasaran peretasan. Setidaknya 300 toko milik Intermarche atau merek Netto, lebih dari 100 gerai Cooperative U, serta beberapa toko E. Leclerc terdampak langsung oleh insiden ini.

Saluran berita BFM TV melaporkan para peretas berhasil secara jarak jauh memicu proses defrosting atau pencairan paksa pada sistem pendingin di berbagai gerai. Pihak Intermarche mengonfirmasi bahwa cabang-cabang yang terdampak harus membuang seluruh produk makanan segar dan makanan beku mereka.

Kejaksaan Paris mengonfirmasi pembukaan penyelidikan resmi atas insiden peretasan berskala besar tersebut. Pihak kejaksaan juga mengindikasikan bahwa serangan ini berpotensi memicu timbulnya kebakaran di beberapa lokasi.

Penyelidikan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi para korban serta memastikan keterkaitan antara laporan kerugian bahan pangan dan timbulnya kebakaran.

Hasil penelusuran mengarah pada sistem kontrol pendingin buatan produsen asal Denmark, Danfoss. Pihak Danfoss menjelaskan bahwa sebagian besar peralatan yang terdampak merupakan produk lama yang sudah tidak lagi menerima pembaruan perangkat lunak maupun sistem keamanan.

Secara khusus, perangkat sistem regulator pendingin tipe AK-SM800 dan AK-SC355 menjadi sasaran peretasan, di mana tipe pertama menggunakan versi perangkat keras yang sudah usang. Pihak Danfoss menegaskan bahwa mereka telah lama menasihati pihak supermarket untuk memperbarui model-model tersebut.

Sumber yang dekat dengan Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menyatakan badan keamanan siber Prancis telah mengidentifikasi celah kerentanan pada perangkat lunak buatan perusahaan Denmark tersebut dan telah menghubungi pihak vendor.

Badan keamanan siber Prancis kini berkoordinasi dengan otoritas terkait di Eropa untuk mengantisipasi potensi dampak di negara lain, sekaligus mengidentifikasi perusahaan-perusahaan Prancis lainnya guna mencegah penyebaran serangan lebih lanjut.

Direktur Utama Cooperative U, Dominique Schelcher, mengecam keras aksi peretasan yang dinilainya belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mengonfirmasi gangguan pada sistem pendingin tersebut telah berlangsung sejak Minggu malam.

“Menargetkan peralatan yang sangat penting bagi penyimpanan produk segar dan pasokan makanan rakyat Prancis adalah hal yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ini tidak bisa diterima,” tulis Dominique Schelcher melalui platform X.

Ia menambahkan seluruh tim perusahaan dikerahkan secara penuh untuk memulihkan keadaan secepat mungkin, seraya menegaskan penyelidikan menyeluruh sangat diperlukan untuk menyingkap tuntas serangan ini.

Kecaman juga datang dari Komisaris Pangan dan Pertanian Uni Eropa, Christophe Hansen. Melalui platform X, ia menegaskan pentingnya perhatian ekstra terhadap keamanan pangan di semua tingkatan.

“Keamanan pangan membutuhkan perhatian lebih di semua tingkatan,” ujar Christophe Hansen, seraya mengecam eksploitasi terhadap sektor pangan yang kini telah menjadi sebuah kenyataan.

Insiden ini memperkuat kekhawatiran yang kian meningkat di Eropa terkait potensi kekacauan akibat serangan siber pada berbagai sektor kritis. Pakar dari konsultan keamanan siber Almond, Antoine Hautin, menjelaskan peralatan industri seperti unit pendingin yang dulunya terisolasi dari internet, kini umumnya telah terhubung melalui sensor atau sistem pemantauan jarak jauh.

Menurutnya, keberhasilan peretas yang mampu memengaruhi ratusan unit pendingin secara bersamaan menunjukkan tingkat sensitivitas dan kompleksitas serangan yang cukup tinggi. (AFP/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *