
PEMADAMAN listrik massal (blackout) yang melanda Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (12/10) menjadi pukulan bagi aktivitas industri. Gangguan pasokan listrik selama berjam-jam itu diperkirakan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp233,9 miliar, terutama akibat terhentinya proses produksi sektor manufaktur.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Batam sekaligus Wakil Ketua Kadin Kota Batam, Suyono Saputra, menilai gangguan listrik dalam skala luas dapat menimbulkan dampak berantai terhadap kegiatan ekonomi. Selain menghentikan mesin produksi, pemadaman juga berisiko merusak bahan baku, mengganggu jadwal pengiriman, dan menambah biaya operasional perusahaan.
Estimasi kerugian tersebut dikaitkan dengan besarnya aktivitas ekonomi Batam yang memiliki produk domestik regional bruto (PDRB) sekitar Rp200 triliun per tahun. Dengan nilai ekonomi sebesar itu, gangguan pasokan listrik selama berjam-jam berpotensi menekan produktivitas berbagai sektor usaha.
Sektor manufaktur diperkirakan menjadi penyumbang terbesar kerugian. Sekitar 56% PDRB Batam berasal dari sektor tersebut. Ketika listrik terputus, proses produksi di pabrik yang bergantung pada mesin dan peralatan elektronik dapat terhenti, sementara biaya tenaga kerja dan operasional tetap berjalan.
Dalam satu pabrik dengan 500 pekerja, penghentian produksi selama 12 jam diperkirakan dapat menimbulkan kerugian Rp300 juta hingga Rp400 juta. Nilai itu belum memperhitungkan kemungkinan kerusakan produk, bahan baku, serta biaya untuk mengembalikan proses produksi ke kondisi normal.
Dampak pemadaman juga dapat menjalar ke sektor jasa, pusat perbelanjaan, perhotelan, dan pelabuhan. Aktivitas perdagangan serta pelayanan yang bergantung pada listrik berpotensi terganggu, terutama jika pemulihan pasokan berlangsung tidak serentak di seluruh wilayah.
Pada industri tertentu, pemadaman mendadak berisiko menimbulkan kerugian lebih besar. Produk yang sedang diproses dalam oven bersuhu tinggi, misalnya, dapat rusak ketika proses produksi terhenti. Fasilitas clean room juga bisa memerlukan sterilisasi ulang sebelum kembali digunakan, sehingga menambah waktu dan biaya pemulihan.
Gangguan tersebut sekaligus menyoroti ketergantungan sebagian besar perusahaan terhadap pasokan listrik dari jaringan umum. Perusahaan yang memiliki pembangkit sendiri relatif mempunyai alternatif ketika terjadi gangguan, sedangkan perusahaan tanpa sumber listrik cadangan harus menghentikan kegiatan hingga pasokan kembali normal.
Bagi Batam sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan di Kepulauan Riau, keandalan listrik merupakan faktor penting dalam menjaga produktivitas dan kepastian usaha. Pemadaman massal tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga berpotensi memengaruhi pekerja, pemasok, distribusi barang, dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Karena itu, gangguan listrik tersebut menjadi pengingat pentingnya keandalan infrastruktur kelistrikan serta kesiapan dunia usaha menghadapi keadaan darurat. Evaluasi terhadap penyebab pemadaman, kecepatan pemulihan, dan sistem mitigasi diperlukan agar gangguan serupa tidak kembali menimbulkan dampak luas bagi industri Batam. (HK/E-4)
