
KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pola konsumsi siswa. Salah satu capaian utamanya adalah peningkatan drastis konsumsi protein di kalangan anak-anak.
Sudaryono menjelaskan bahwa tujuan Program MBG tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi peserta didik, tetapi juga bertujuan mendorong peningkatan asupan protein serta membangun kebiasaan makan sehat sejak dini.
“Konsumsi protein itu dengan MBG ini di anak-anak juga jadi naik, kalau tidak salah dari 30 atau 40 persen, kemudian naik menjadi hampir 80 persen,” ujar Sudaryono usai meninjau pembagian MBG di SDN Cot Meuraja, Aceh Besar, Selasa (13/10).
Selain perbaikan pola konsumsi protein, pelaksanaan program prioritas nasional ini juga berhasil menekan jumlah siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar. Berdasarkan data agregat, Sudaryono menyebutkan persentase siswa yang mengalami kondisi tersebut kini berada di angka 14 persen.
Evaluasi Berbasis Kondisi Daerah
Meski menunjukkan tren positif, Sudaryono menekankan bahwa data tersebut perlu dipahami dalam konteks nasional yang luas. Ia mengingatkan bahwa kebutuhan gizi anak di setiap daerah memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda.
“Kita tidak bisa mengukur keadaan siswa itu berdasarkan keadaan siswa yang ada di ibu kota atau di kota-kota besar. Ini secara agregat keseluruhan seluruh Indonesia,” ucapnya. Oleh karena itu, evaluasi program akan terus mempertimbangkan kondisi spesifik peserta didik di berbagai wilayah, terutama daerah yang masih menghadapi tantangan berat dalam pemenuhan gizi.
Edukasi Gizi Melalui Peran Guru
Lebih lanjut, Sudaryono menilai MBG memiliki fungsi strategis sebagai sarana edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang. Mengingat pemahaman gizi yang belum merata di masyarakat, keterlibatan guru dalam pelaksanaan program menjadi sangat krusial.
Ia menjelaskan bahwa pemberian makanan kepada guru di sekolah merupakan bagian dari strategi edukasi. Guru diharapkan dapat membimbing siswa untuk memahami komposisi makanan sehat, seperti pentingnya serat dari sayur dan buah.
“Bukan kok kita kasih makan gurunya, melainkan gurunya diberikan (makanan) dalam rangka edukasi gizi. Mengapa mesti ada serat, sayur, buah, mengapa mesti makan sayur. Anak-anak yang tadinya tidak suka sayur, jadi harus suka,” tutur Sudaryono.
Melalui pendekatan edukasi di lingkungan sekolah, BGN berharap anak-anak dapat memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang. Kebiasaan sehat ini diharapkan tidak hanya berhenti di sekolah, tetapi juga terbawa hingga ke lingkungan keluarga masing-masing. (Ant/H-3)
