Jaringan Digital Selamatkan Tambak di Maros
Instalasi Tambak Silvofishery di Desa Marannu, Kecamata Lau, Kabupaten Maros.(Dok. Balai Riset PBAPPR)

KONDISI air tambak di pesisir Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tidak lagi bisa ditebak. Kemarau panjang yang datang berturut-turut membuat salinitas (tingkat kadar garam yang terlarut di dalam air) naik. Akibatnya, ikan, udang, dan kepiting mati sebelum panen.

Petambak di kawasan silvofishery Marannu, Maros, mulai terlihat mencatat kadar garam, suhu, dan kekeruhan air. Data itu dikirim ke ponsel, direkam, lalu dijadikan dasar untuk mengambil keputusan. 

Teknologi digital yang masuk ke desa ini, bukan untuk gaya-gayaan, melainkan menjadi alat untuk bertahan hidup. Dengan kehadiran internet kawasan, seorang petambak bisa menyelamatkan panennya ketika air menjadi terlalu asin. 

Saat itu di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, matahari belum tinggi, tapi panas sudah menusuk. Di hamparan tambak yang membentang ke arah laut, air terlihat keruh dan dangkal.

Di beberapa petak, dasar tambak mulai mengeras, tanda salinitas sudah melewati batas yang bisa ditoleransi ikan bandeng dan udang.

Bagi petambak di kawasan ini, kemarau bukan lagi siklus musiman yang bisa diantisipasi dengan kalender. Itu menjadi ancaman yang makin sulit diprediksi. 

Ketika salinitas naik, ikan dan kepiting yang dibudidayakan mati. Panen gagal. Pendapatan hilang.

“Dulu kami hanya bisa pasrah. Sekarang, setidaknya kami tahu kapan air harus diganti, kapan harus ditambah,” kata seorang petambak di kawasan Silvofishery Marannu, Dewan Wahyu Arifin.

Ia bercerita bahwa sebelum ada sensor dan pencatatan data, keputusan soal air diambil berdasarkan perkiraan. Kini, angka yang tercatat di ponselnya menjadi rujukan.

Ketika kadar garam melewati ambang tertentu, ia segera mengatur sirkulasi air. Langkah kecil, tapi berdampak langsung pada kelangsungan hidup komoditas yang ia pelihara.

Data yang Mengalir dari Tambak

Di kawasan wanamina atau silvofishery Marannu, pohon bakau juga tumbuh berbaris di antara petak-petak tambak. Kombinasi mangrove dan budidaya ini bukan sekadar lanskap yang indah.

Tapi merupakan sistem yang saling menopang. Bakau menjaga kualitas air, menahan abrasi, dan menyediakan habitat bagi organisme yang menjadi pakan alami ikan dan udang.

Petambak di kawasan ini mengukur kadar garam dan suhu air secara berkala. Alat ukurnya sederhana, yaitu refraktometer untuk salinitas, termometer untuk suhu.

Tapi data yang mereka kumpulkan dicatat secara sistematis, lalu menjadi dasar untuk proyeksi panen dan langkah mitigasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyaksikan langsung cara kerja ini ketika membuka Rural ICT Camp 2026 di lokasi tersebut pada pertengahan September lalu.

Ia menyebut inisiatif warga Maros sebagai bukti nyata dari konektivitas yang berdampak.

“Kita menyaksikan bagaimana warga menggunakan teknologi digital untuk mengukur kadar garam, suhu, lalu mencatatnya sebagai big data dan membuat proyeksi ke depan. Ini adalah langkah penting kemandirian warga dalam menghadapi perubahan iklim,” ujar Wamen Nezar saat membuka kegiatan itu.

Menurutnya, perubahan iklim telah menghadirkan tantangan yang nyata di lapangan. Tingginya salinitas akibat kemarau panjang memengaruhi kelangsungan hidup komoditas perikanan seperti ikan dan kepiting.

Pemanfaatan data secara tepat, katanya, membantu petambak mengambil langkah mitigasi secara cepat dan efisien.

Yang menarik, ukuran keberhasilan yang dipakai Wamen Nezar bukan soal jumlah perangkat atau aplikasi. “Ukuran keberhasilan kita bukan berapa banyak aplikasi yang dibuat atau berapa banyak perangkat yang dipasang. Ukurannya adalah apakah komunitas menjadi lebih berdaya, ekosistem lebih terjaga, dan penghidupan masyarakat menjadi lebih tangguh,” tegasnya.

Kolaborasi yang Menumbuhkan Kemandirian

Perjalanan digitalisasi di Maros, dimulai dari keprihatinan bersama terhadap ekosistem pesisir yang terdegradasi.

Kepala Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros, A. Indra Jaya Asaad, mengungkapkan bahwa kemitraan itu berawal dari persoalan bakau.

“Awal mulanya kita bekerja sama karena ada mangrove. Salah satu kantor kami di Marana memang kami buat sebagai percontohan penanaman bakau yang bersinergi dengan budi daya,” ujarnya.

Dari situ, kolaborasi berkembang. Common Room Networks Foundation, lembaga yang bekerja di persimpangan teknologi dan masyarakat sipil, masuk dengan membawa pendekatan Community-based Innovation Lab for Climate Resilience atau Co_LABS.

Program ini memanfaatkan sensor lingkungan, Internet of Things, dan pengumpulan data berbasis warga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat memahami perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Sehingga Common Room Networks Foundation, dan Kementerian Komunikasi dan Digital, mengubah internet komunitas menjadi sesuatu yang konkret berupa data yang menyelamatkan tambak.

Karena memang, Manajer Media dan Kerja Sama Common Room Networks Foundation, Tisha Amelia, menekankan bahwa teknologi harus berjalan beriringan dengan upaya adaptasi iklim.

“Perkembangan teknologi dan konektivitas perlu berjalan beriringan dengan upaya masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya di wilayah perdesaan, pesisir, dan daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur komunikasi,” ujarnya.

Kepala BRPBAPPP Maros, Indra Jaya Asaad, lalu merumuskan prinsip itu dengan sederhana, bahwa teknologi harus digunakan untuk memperkuat kemampuan masyarakat, bukan justru membuat masyarakat semakin bergantung.

Di tambak-tambak Marannu, prinsip itu sedang diuji setiap hari. “Dan sejauh ini, data yang mengalir dari sensor-sensor sederhana itu membawa harapan, bukan karena teknologinya canggih, tapi karena menjawab persoalan yang paling nyata, bagaimana bertahan ketika kondisi air tidak lagi bisa ditebak,” tukas Indra Jaya

Di sinilah kisah Maros menunjukkan bahwa transformasi digital tidak harus dimulai dari kota, startup, atau dari aplikasi yang canggih. Ia bisa dimulai dari tambak, dari kebutuhan yang paling mendesak, dari data yang paling sederhana.

Jalan yang Masih Panjang

Rural ICT Camp 2026 di Maros dirancang sebagai laboratorium hidup, dan menjadi ruang uji efektivitas teknologi bagi kemaslahatan masyarakat. 

Harapannya, dari Maros lahir model-model pemanfaatan internet komunitas yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia.

“Semoga dari tempat ini lahir model-model pemanfaatan internet yang dapat kita kembangkan untuk komunitas-komunitas lain di seluruh Indonesia,” pungkas Nezar.

Dan itu diyakini Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sulawesi Selatan, Sultan Rakib. Bahwa pemanfaatan internet pasti terus berkembang khususnya di Sulsel.

Karena menurutnya, secara administratif, Sulsel  sudah menyandang status terbebas dari wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Dan Terluar). (LN/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *