Serangan Energi Memanas di Tengah Klaim Gencatan Senjata Trump, Warga Ukraina Pilih Mengungsi
Presiden Zelensky menuding Rusia terus menggempur fasilitas energi Ukraina meski Trump mengklaim adanya gencatan senjata. (The State Emergency Service of Ukraine)

PRESIDEN Ukraina Volodymyr Zelensky menuding Rusia terus melancarkan serangan udara terhadap berbagai fasilitas energi vital di wilayahnya. Pernyataan ini disampaikan Zelensky tak lama setelah mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah menyepakati sebuah “gencatan senjata energi” di antara kedua belah pihak.

Melalui pesan video yang diunggah di akun Telegram resminya, Zelensky menegaskan gempuran Pasukan Moskow menyasar infrastruktur krusial, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) CHPP-5 yang berada di Kharkiv.

“Secara keseluruhan, sepanjang pekan ini saja, pihak Rusia telah meluncurkan lebih dari 200 serangan ke fasilitas pembangkit dan transmisi listrik kami di Ukraina,” ujar Zelensky.

Eskalasi serangan Moskow yang kian intensif terhadap Kyiv, dipadukan dengan cuaca ekstrem saat musim dingin, kini memaksa sebagian warga untuk mengambil keputusan berat: meninggalkan rumah mereka demi bertahan hidup.

Dengan suhu udara yang kerap merosot di bawah nol derajat Celsius serta pemadaman listrik secara berkala akibat rusaknya jaringan energi nasional, musim dingin lalu tercatat sebagai salah satu periode terberat bagi masyarakat Ukraina.

Seorang ibu rumah tangga beranak dua di Kyiv, Mariia Shostak, mengungkapkan bahwa dirinya sedang mengemas barang-barang untuk membawa anak-anaknya keluar dari negara tersebut.

“Musim dingin tahun lalu di Kyiv terasa sangat berat. Ada hari-hari dan pekan-pekan yang rasanya tidak sanggup lagi ditanggung. Saya mulai berpikir bahwa saya tidak bisa melewati musim dingin seperti ini lagi,” tutur Shostak.

Sementara itu, sebagian warga memilih bertahan di dalam negeri dengan menyingkir ke daerah pedesaan yang jauh dari target militer. Olena Konoplia, warga Kyiv lainnya, memutuskan menyewa pondok di pemukiman terpencil yang berjarak dua jam dari ibu kota.

“Saya memutuskan bahwa pilihan yang lebih baik adalah tinggal di desa kecil tanpa pabrik, pergudangan, atau stasiun kereta api, semua hal yang berpotensi menjadi sasaran serangan Rusia,” kata Olena.

Saling Serang Drone di Berbagai Wilayah

Di saat bersamaan, pertempuran dan serangan menggunakan pesawat tanpa awak (drone) terus menelan korban jiwa di kedua belah pihak, baik di wilayah Ukraina maupun kawasan perbatasan Rusia.

Pemerintah daerah Belgorod, Rusia, melaporkan bahwa serangan drone Ukraina menewaskan satu orang setelah menghantam sebuah mobil. Serangan terpisah di wilayah yang sama juga melukai dua remaja serta seorang wanita yang mengalami luka akibat pecahan proyektil.

Sementara itu, kantor berita Rusia, TASS, melaporkan serangan drone Ukraina di wilayah Donetsk, daerah Ukraina yang sebagian besar dikuasai Rusia, menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya pada hari Minggu.

Di Ukraina bagian barat, Wali Kota Ivano-Frankivsk, Ruslan Martsynkiv, menyampaikan bahwa serangan drone Rusia merenggut nyawa tiga personel militer serta merusak infrastruktur sipil. “Saat ini tidak ada tempat yang aman di Ukraina,” tegas Martsynkiv.

Gelombang serangan juga menghantam wilayah Kharkiv. Tiga orang dilaporkan tewas setelah rudal Rusia mengenai sebuah toko kelontong. Selain itu, Layanan Darurat Negara Ukraina mengonfirmasi satu korban jiwa dan beberapa luka-luka akibat gempuran di kawasan pemukiman warga setempat. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *