Menavigasi Dunia yang Rentan
(MI/Seno)

TEMA besar yang ditulis dalam laporan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) edisi tahun 2026 tampaknya tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi global tahun ini (2026) dan tahun depan (2027). Dengan tagline ‘Bekerja sama untuk menumbuhkan kekuatan, ketahanan, dan pertumbuhan’, Kristalina Georgiva, Managing Director IMF, mengatakan kendati dihadapkan pada berbagai tantangan dari guncangan geopolitik, konflik yang terus berlangsung, dan perubahan besar dalam sistem perdagangan global, tahun 2025 lalu ditandai dengan ketahanan yang cukup baik.

Berkat kelincahan sektor swasta yang tetap ekspansif meski terbatas, dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang terukur dan kredibel, serta investasi langsung terkait teknologi, maka pertumbuhan global mampu bertahan dan inflasi terus menurun. Faktor-faktor ini mendorong peningkatan kecil dalam proyeksi pertumbuhan global IMF pada awal hingga Juli 2026 lalu.

Mulai akhir Februari silam, perang di Timur Tengah secara signifikan telah mengubah arah tersebut. Meskipun gangguan terkait konflik paling dirasakan di wilayah tersebut, guncangan pasokan untuk energi dan komoditas strategis lain—serta dampaknya pada rantai pasokan global yang lebih luas—menyebabkan kesulitan signifikan yang jauh lebih serius.

Pada saat yang sama, sebagai dampak eskalatif langsung maupun tidak langsung dari perang Iran, timbunan utang pemerintah–kerap dibaca sebagai utang publik–di hampir seluruh dunia terus bergerak mendekati rekor tertinggi. Manajemen utang publik ini menjadi sorotan tajam mengingat kemampuan dan kapasitas setiap negara untuk mampu menanggulanginya tidak sama. Apalagi jika mengingat ulang bahwa perang tersebut tidak membawa dampak positif apa-apa bagi dunia selain kemudaratan yang ditanggung seluruh rakyatnya.

 

RISIKO GEOPOLITIK KE GEOEKONOMI

Risiko geopolitik–yang kini beringsut ke risiko geoekonomi–bukan lagi serangkaian guncangan yang harus diperdagangkan karena risiko ini menjadi kekuatan yang terus-menerus membentuk inflasi, kebijakan fiskal, pengeluaran anggaran pertahanan, keamanan energi, kepemimpinan teknologi, dan alokasi modal.

Kini para investor tampak terfokus pada tiga koordinat utama di peta geopolitik, yaitu pergantian pucuk pimpinan pemerintahan di Inggris menyusul pergantian perdana menteri, polemik atas diplomasi solusi yang rumit di Selat Hormuz, dan meningkatnya permusuhan di Ukraina setelah Rusia yang terus berusaha menganeksasi sebagian wilayah Ukraina.

Namun, dalam hal dampak investasi, IMF mencatat bahwa peristiwa-peristiwa global dinilai relatif kecil–termasuk skala dampaknya–jika dibandingkan dengan pergeseran transformasional menuju persaingan struktural yang berkelanjutan. Dalam lingkungan ini, persaingan geopolitik, konflik langsung, dan persaingan teknologi yang sengit melibatkan ketahanan yang berkepanjangan yang memiliki implikasi signifikan bagi keselarasan politik dan alokasi modal.

Perkembangan terpenting baru-baru ini ialah bahwa proses diplomatik masih berlanjut di tengah ancaman yang terus berlangsung di sekitar Hormuz, bahkan ketegangan ini telah melibatkan Libanon, dan perselisihan yang berulang di antara para pihak. Pembicaraan teknis terus berlanjut, saluran komunikasi tetap terbuka, dan kedua belah pihak tetap mendapat insentif untuk mencapai kesepakatan meskipun konflik militer masih terus terjadi.

Pusat gravitasi risiko geopolitik sekaligus geoekonomi tetap di Selat Hormuz. Pemerintahan Iran secara konsisten berusaha mengarahkan negosiasi ke pertanyaan terkait pengaruh regional, pengurangan sanksi, keamanan energi, akses komersial, dan pengaruh strategisnya.

Dalam berbagai perundingan bilateral maupun multilateral untuk mencapai gencatan senjata, isu pengembangan nuklir Iran tetap krusial dan semakin tampak seperti bab terakhir yang tak pernah usai. Urutan dasar dogmatis bagi Iran tetap berlaku secara langgeng, yaitu penguasaan Selat Hormuz, keamanan regional, dan arsitektur nuklir.

Para investor global khawatir jika tensi perang tidak segera mendingin, lonjakan harga minyak global bakal bertahan lama di atas US$100 per barel dan akan semakin menyulitkan pemulihan ekonomi global tahun ini dan mungkin berlanjut tahun depan.

Negara-negara importir minyak –termasuk Indonesia—bakal menderita lebih dalam lantaran konsumsi minyak domestiknya terus meningkat. Dampak langsung secara nyata sudah terlihat ketika inflasi merambat naik menembus target di setiap negara yang memaksa bank-bank sentral di negara-negara maju –Uni Eropa, Inggris, AS, Jepang, dan Australia– serempak menaikkan suku bunga acuan.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia di mana saat ini suku bunga acuan–disebut dengan BI rate–sudah bertengger di level 5,75%. Belakangan muncul analisis kemungkinan besar di sisa tahun ini The Fed masih akan menaikkan satu kali lagi suku bunga acuan ke level 4,0%-4,25% sehingga berpotensi mendorong bank-bank sentral negara lain akan mengikuti langkah tersebut.

Dalam jangka menengah, prospek pertumbuhan global tetap terbebani oleh tantangan struktural seperti populasi yang menua di sebagian besar dunia—bahkan tanpa menghadapi guncangan tambahan. Namun, kebijakan moneter dan fiskal yang mendukung saat ini dan geliat investasi swasta dapat membantu membawa ekonomi dunia melewati kesulitan ini.

Perkembangan investasi dan produksi terkait akal imitasi atau kecerdasan buatan (AI) di negara-negara maju memberikan prospek positif pada jalur pertumbuhan yang lebih tinggi. AI telah berkembang dari teknologi yang sedang berkembang menjadi kebutuhan bisnis strategis. Berbagai lembaga keuangan global telah memanfaatkan AI di hampir setiap aspek operasional mereka, termasuk deteksi penipuan, layanan konsumen, penjaminan asuransi, manajemen investasi, dan kepatuhan regulasi. Sistem AI modern dapat menganalisis jutaan transaksi secara real-time, mampu mengidentifikasi aktivitas mencurigakan dalam hitungan detik, dan terus belajar dari pola baru untuk meningkatkan keamanan. Chatbot berbasis AI dan penasihat keuangan virtual memberikan panduan keuangan yang dipersonalisasi kepada pelanggan di sepanjang waktu (dinotasikan dengan 24/7), sementara AI generatif membantu institusi mengotomatisasi dokumentasi, pelaporan, dan komunikasi konsumen.

Sektor perbankan dan perusahaan fintech semakin banyak menggunakan analitik prediktif untuk mengantisipasi kebutuhan konsumen, memperbaiki keputusan pemberian pinjaman, dan menawarkan produk keuangan yang disesuaikan berdasarkan perilaku dan preferensi konsumen individu. Dalam konteks ini, para pelaku sektor keuangan dituntut mampu menavigasi arus silang tersebut—dengan cara memanfaatkan peluang dan mengelola risiko yang tersedia—melalui nasihat kebijakan yang disesuaikan, pengembangan kapasitas dan kapabilitas, dan strategi pembiayaan yang tepat.

Faktanya, AI menawarkan peluang sekaligus ancaman. Untuk memanfaatkan peluang ini, negara-negara dapat membantu pekerja untuk melakukan pelatihan ulang dan perusahaan untuk memanfaatkan potensi peningkatan produktivitas. Adapun untuk mengelola ancaman, memperkuat ketahanan siber adalah keharusan.

Keberadaan regulasi yang ketat dan protektif terhadap perkembangan AI dinilai telah mendesak mengingat potensi penyalahgunaan perangkat AI yang bersifat destruktif. Bill Gates, pendiri Microsoft dan filantrop global, memiliki pandangan sangat dinamis dan optimistis, tapi belakangan ini dipenuhi kekhawatiran mendalam mengenai perkembangan AI. Pada akhir September 2026, dalam wawancaranya dengan NBC News (Meet the Press), Bill Gates mengeluarkan peringatan keras bahwa AI saat ini sudah cukup kuat untuk memicu rentetan peristiwa yang bisa menyebabkan kematian hingga satu miliar manusia jika disalahgunakan oleh pihak yang berniat jahat.

Menurutnya, bahaya terbesar saat ini bukanlah fiksi ilmiah tentang AI yang ‘memberontak’, melainkan kombinasi antara aktor jahat dan perangkat AI generasi terbaru. Senjata siber, ancaman biologis (bioterorisme), serta serangan siber pada infrastruktur publik–seperti rumah sakit dan jaringan listrik–menjadi ancaman yang sangat nyata.

 

MEMPERKUAT RESILIENSI

Ekonomi global memang terus menunjukkan ketahanan dalam menghadapi guncangan yang lebih sering dan tumpang tindih. Meski demikian, ketidakpastian tetap tinggi dan prospek jangka menengah masih hambar. Pilihan terbaik dan pragmatis saat ini ialah setiap pemerintahan harus menempuh jalur menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sambil memperkuat ketahanan terhadap dunia yang rawan guncangan.

Stabilitas harga dan keuangan sangat penting. Berkat kerangka bauran kebijakan–moneter, fiskal, ekonomi, keuangan dan investasi–yang solid dan institusi yang saling menguatkan, mereka mampu tampil menjadi pilar ketahanan. Tantangan fiskal justru semakin tajam untuk dapat mengendalikan pengeluaran di saat penerimaan dihadapkan pada tantangan sehingga defisit fiskal tetap bergerak pada kisaran ambang batas yang aman, sehat, dan kredibel. Otoritas fiskal memiliki seperangkat instrumen yang dapat digunakan, baik untuk menyerap risiko guncangan maupun untuk stimulus perekonomian, tetapi para pengambil kebijakan harus memilih opsi instrumen dengan bijak dan ramah masyarakat.

Lebih luas dari sekadar kebijakan sektoral, maka penyusunan kebijakan struktural yang komprehensif sesungguhnya merupakan jalur penting untuk membangun kesinambungan pertumbuhan, fleksibilitas, dan resiliensi yang lebih tahan lama. Di titik ini kata kuncinya ialah ‘sinergi’ atau ‘harmoni’ atau ‘sinkronisasi’.

Di sektor ekonomi dan keuangan, forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi contoh sahih bagi terkelolanya sinergi dan sinkronisasi kebijakan antarlembaga yang ada di dalamnya–Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Bahkan sekarang rapat KSSK bisa ‘diperluas’ dengan hadirnya unsur pemerintah dan lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk menajamkan esensi dan substansi kebijakan yang dihasilkan.

Para pengambil kebijakan wajib duduk bersama untuk merancang dan menetapkan kebijakan secara kolegial melalui proses rulemaking dan governansi yang baik–termasuk sesi uji publik dan public hearing–sehingga output kebijakannya akan memiliki kredibilitas dan akseptabilitas yang tinggi di mata masyarakat. Kelincahan dan keluwesan sikap proaktif dan preemptive dari para pengambil kebijakan akan sangat menentukan kemampuan negara dalam menavigasi dunia yang rentan saat ini di mana Indonesia berada di tengah-tengah ‘kampung dunia’ dan diharapkan oleh IMF mampu menjadi salah satu titik terang (bright spot) di tengah ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.

Sebelumnya IMF memuji ketahanan ekonomi Indonesia yang dinilai mampu menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi di tengah gejolak geopolitik dunia. Kebijakan yang solid melalui pengelolaan defisit fiskal di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial BI dinilai efektif mengendalikan inflasi. IMF juga menilai positif kebijakan hilirisasi komoditas dan reformasi struktural yang sedang dikerjakan pemerintah untuk mencapai target jangka panjang.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *