
PERNAHKAH terpikir bagaimana jadinya bila kota dan budaya Jakarta muncul dalam novel fiksi ilmiah asli Jepang? Dalam karya terbaru Kosuke Hashijima bertajuk Puru-Puru Punk: Jakarta Arc, Jakarta tidak sekadar hadir dalam satu atau dua bab, melainkan tampil sebagai latar utama cerita.
Novel fiksi ilmiah ini hadir secara spesial dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Jepang. Ceritanya mengikuti petualangan sepasang saudara kembar bernama Selatan dan Utara yang tinggal di Jakarta. Bersama tokoh-tokoh lokal, mereka dikisahkan berpacu melintasi hiruk-pikuk kota dalam satu hari yang terasa sangat panjang.
“Ini adalah sebuah kisah tentang Jakarta yang ‘diamati’ lewat dua bahasa, Jepang dan Indonesia. Ini juga merupakan eksperimen untuk menghubungkan Indonesia dan Jepang secara dua arah melalui imajinasi saya. Kisah ini menggambarkan hari terpanjang di Jakarta,” ujar Kosuke Hashijima dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/10).
Berbeda dengan novel pada umumnya, Puru-Puru Punk: Jakarta Arc dilengkapi dengan sejumlah gambar ilustrasi yang menggambarkan karakter utama dengan latar belakang ikonik kota dan budaya Jakarta. Kehadiran visual ini dirancang untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih imersif.
Mengenai alasannya memilih Jakarta, Hashijima mengungkapkan bahwa proyek ini adalah cara untuk mengabadikan perjalanan hidupnya di Asia Tenggara. Ia mengaku telah menghabiskan lebih dari lima tahun di kawasan ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di Singapura pada usia 26 tahun.
”Jakarta Arc adalah cara saya melepaskan, tanpa ragu, kenangan-kenangan dari tahun-tahun itu yang mulai memudar dalam diri saya,” jelasnya.
Tidak Sekadar Karya Tulis
Proyek ini melampaui sekadar karya tulis. Kosuke Hashijima turut berkolaborasi dengan Liqid Creative Space, sebuah galeri seni di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta, untuk menggelar pameran seni. Di galeri tersebut, dipajang deretan karya lukis yang menampilkan ilustrasi dari semesta novel tersebut.
Dalam pameran bertema Jakarta Arc ini, pengunjung diajak menyelami lukisan kolaborasi antara Hashijima dengan seniman lokal, Rool Rama. Menariknya, karya-karya yang terinspirasi dari semesta fiksi ilmiah Puru-Puru Punk ini tidak hanya dituangkan di atas kanvas, tetapi juga diaplikasikan pada berbagai media seperti papan skateboard hingga kaos.
Selama pameran berlangsung, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar serta membeli novel maupun merchandise resmi Puru-Puru Punk: Jakarta Arc. Pameran ini terbuka untuk umum mulai 10 Oktober hingga 6 November 2026. (H-2)
