
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran berpotensi meningkatkan aksinya menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
Menurut Trump, Teheran meyakini bahwa peningkatan tindakan tersebut dapat merugikan posisi Amerika Serikat.
Meski demikian, Trump mengeklaim Washington mampu mengakhiri konflik dengan Iran dalam waktu singkat.
Pernyataan itu disampaikan pada Sabtu (10/10) saat ia menghadiri rapat umum kampanye di Tennessee bagian selatan, wilayah yang selama ini menjadi basis kuat Partai Republik.
“Mereka mungkin akan melakukan sedikit lebih banyak sebelum pemilihan, berpikir itu akan merugikan kita,” kata Trump dalam pidatonya.
“Tetapi kita bisa mengakhirinya dengan sangat cepat,” tambahnya.
Trump juga mengeklaim telah menahan diri dalam menghadapi Iran, meskipun ia menyebut angkatan laut negara tersebut telah mengalami kehancuran.
“Mereka tidak tahu betapa baiknya saya kepada mereka,” ujarnya.
Trump turut mengeklaim bahwa 159 kapal Iran telah ditenggelamkan sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Dalam pidatonya, Trump juga menyinggung Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pusat ketegangan antara Washington dan Teheran. Ia bahkan melontarkan gagasan untuk mengubah nama selat tersebut.
“Kami sedang mempertimbangkan untuk mengganti namanya menjadi Selat Trump,” kata Trump.
Sebelumnya, Trump menyatakan perang dengan Iran mungkin berakhir tidak lama setelah pemilihan paruh waktu Kongres AS pada 3 November. Konflik tersebut kini menjadi salah satu isu penting menjelang pemungutan suara.
Trump memang tidak mencalonkan diri dalam pemilihan tersebut. Namun, ia aktif berkampanye untuk mendukung sesama anggota Partai Republik demi mempertahankan kendali partainya atas satu atau kedua kamar Kongres.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Teheran kemudian merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut, sekaligus menyebabkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz terhenti secara efektif.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari tujuh bulan itu turut mendorong kenaikan harga energi global. Gangguan lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia, menjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap pasokan.
Pada Juni, Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan kerangka kerja setelah Pakistan dan Qatar berupaya memediasi kedua pihak untuk menghentikan permusuhan dan membuka jalan menuju perundingan.
Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut kemudian terhambat oleh sejumlah perbedaan pandangan, termasuk mengenai jaminan keamanan dan pengaturan navigasi di Selat Hormuz. (Fer/I-1)
