
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengajak mahasiswa dan profesional muda Indonesia di Australia untuk bersiap menghadapi tantangan era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan memperkuat nalar kritis, literasi digital, serta memegang teguh identitas kebangsaan.
Pesan tersebut disampaikan Ibas saat memberikan Final Keynote Speech secara daring dalam gelaran INFOKAN 2026 bertema “Passing Wisdom, Inspiring Tomorrow” yang diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Western Australia (PPIA WA) dan PPIA Curtin, Minggu (11/10/2026).
Ibas yang juga merupakan alumni Curtin University membagikan refleksinya saat menempuh pendidikan Bachelor of Commerce bidang Finance and E-Commerce. Ia menggarisbawahi bahwa pendidikan perguruan tinggi bertujuan membentuk pola pikir kritis dan ketangguhan kepemimpinan.
“Universitas bukan hanya tempat untuk mendapatkan jawaban yang benar. Universitas juga mengajarkan kita bagaimana berpikir, bekerja bersama orang lain, menghadapi tekanan, dan terus melangkah ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Life is an eternal university. Hidup adalah universitas yang abadi,” ujar Ibas melalui keterangannya, Minggu (11/10/2026).
Membawa pengalaman di bidang keuangan dan perdagangan elektronik, Ibas menyoroti pergeseran lanskap bisnis global akibat pesatnya adopsi teknologi AI. Ia memeringatkan para mahasiswa bahwa kecepatan mengakses atau menghasilkan informasi melalui AI tidak lagi cukup tanpa diimbangi oleh kedalaman analisis, pemahaman etika, serta pertimbangan moral yang matang.
“Yang membuat kita bernilai bukan sekadar kemampuan menghasilkan lebih banyak informasi. Yang penting adalah kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, memverifikasi kebenaran, memahami orang lain, menggunakan pertimbangan yang baik, dan mengubah informasi menjadi tindakan yang bermakna,” tegas Ibas.
Ibas berpesan agar kemajuan ilmu pengetahuan yang diperoleh di luar negeri senantiasa diabdikan demi kesejahteraan masyarakat luas sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945. Ia menyertipkan filosofi Jawa ‘ojo pedhot oyot’ untuk mengingatkan mahasiswa agar tidak lupa akan akar kebudayaan serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
“Mencintai Indonesia tidak berarti menganggap seluruh persoalan telah selesai. Nasionalisme justru perlu diwujudkan melalui kebanggaan atas pencapaian bangsa, kejujuran dalam melihat kekurangan, serta keberanian untuk ikut memperbaikinya. Ojo pedhot oyot, jangan sampai terputus dari akar. Jadilah bagian dari solusi. Mulailah dari apa yang Anda ketahui, dari orang-orang di sekitar Anda, dan dari persoalan yang bisa Anda bantu selesaikan. Bersatu, berpikir, bergerak, berdampak. Masa depan bukan sekadar sesuatu yang kita tunggu, masa depan adalah sesuatu yang ikut kita ciptakan,” pungkas Ibas. (H-2)
