
Transformasi pendidikan nasional menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan lingkungan, dan dinamika sosial.
Sekolah dituntut tidak hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga membentuk generasi yang kritis, kreatif, adaptif, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan. Pentingnya perubahan pendekatan pendidikan itu menjadi sorotan dalam Redea International Conference ke-16 yang diselenggarakan Redea Institute, sebelumnya bernama HighScope Indonesia Institute, pada 8–9 Oktober 2026.
Konferensi bertema Guardians of the Future: Sustainably Impactful and Future-Driven School itu membahas peran sekolah dalam membangun ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan, inovatif, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia.
Pendiri dan CEO Redea Institute Antarina S F Amir mengatakan kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan. Menurut dia, sekolah perlu menjaga rasa ingin tahu peserta didik serta memastikan pemanfaatan teknologi mendukung pembentukan karakter dan kemampuan berpikir mandiri.
“Sekolah yang berkelanjutan adalah ekosistem hidup yang terus belajar, beradaptasi, dan berkembang agar teknologi memiliki tujuan jelas yakni, membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan berempati,” ujar Antarina dalam pidato pembukaan konferensi, di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Dia menekankan pengambilan keputusan berbasis bukti, pengembangan kompetensi guru secara berkelanjutan, dan keterlibatan aktif peserta didik perlu berjalan beriringan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas akademik dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kesejahteraan peserta didik.
Tantangan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan juga disoroti Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie yang menjadi pembicara penutup.
Dalam paparannya, Stella mengutip data OECD 2026 yang menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan AI setiap hari atau hampir setiap hari memiliki rata-rata skor sains lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang tidak pernah atau hampir tidak pernah menggunakannya.
Menurut Stella, penggunaan AI secara berlebihan tanpa keterlibatan aktif siswa dalam proses berpikir dapat mengurangi kesempatan mereka untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan memahami informasi secara mandiri.
“Guru seharusnya tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi mengajarkan agar posisi murid di masa depan tidak bisa digantikan AI. Kita harus mampu mengevaluasi hasil dari AI secara kritis,” tegasnya.
Ia juga mengacu pada laporan World Economic Forum 2025 yang menempatkan kelincahan, pembelajaran berkelanjutan, dan kreativitas sebagai keterampilan penting yang dibutuhkan pada 2030. Hal ini memperkuat urgensi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan perangkat digital, tetapi juga kemampuan mengevaluasi informasi dan mengambil keputusan secara kritis.
Selain transformasi teknologi, konferensi tersebut mengangkat isu keberlanjutan lingkungan. Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Edward Nixon Pakpahan menegaskan perbaikan lingkungan merupakan kebutuhan mendesak yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Sejalan dengan itu, Redea Institute mendorong integrasi kepedulian lingkungan dalam kurikulum, budaya, operasional, dan tata kelola sekolah. Konferensi ini juga menghadirkan pakar internasional antara lain, Aaron Eisberg dari Friends of New Tech di Napa, California, Richard Cash, dan Ken Moore.
Penguatan kapasitas pendidik turut dilakukan melalui sesi Learning Heroes, yang menampilkan praktik pembelajaran inovatif dan hasil riset aksi guru dari jenjang PAUD hingga SMA dalam jaringan EcoSocioTech School.
Melalui berbagai pembahasan tersebut, transformasi pendidikan diarahkan untuk membangun sekolah sebagai ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Tantangannya bukan sekadar mempersiapkan siswa menggunakan teknologi, melainkan memastikan mereka mampu berpikir mandiri, berkolaborasi, dan berkontribusi bagi keberlanjutan masyarakat serta lingkungan. (H-2)
