
DANANTARA Development Management Fund (DDMF) menegaskan pentingnya transisi energi dan hilirisasi sebagai strategi utama Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Bagi Indonesia, transisi energi bukan sekadar upaya pengurangan emisi, melainkan peluang strategis untuk memperkuat ketahanan energi, mendorong industrialisasi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah ekonomi domestik.
Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund (DDMF), M. Rachmat Kaimuddin, memaparkan pandangan tersebut dalam sesi Executive Interview: How Does the Energy Transition Help Indonesia Escape the Middle Income Trap? pada ajang BloombergNEF Forum Jakarta 2026, Senin (5/10/2026).
“Transisi energi bagi Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan peluang untuk mencapai kemakmuran dan memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui transisi energi, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, meningkatkan nilai ekspor melalui hilirisasi, menarik investasi, serta menciptakan industri dan lapangan kerja baru yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian,” ujar Rachmat dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).
Potensi Ekonomi dan Investasi Hilirisasi
Rachmat menekankan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam dan pasar domestik untuk mengembangkan industri berbasis energi bersih. Namun, kekayaan tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, dan pengembangan rantai pasok yang kuat.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan tren positif di sektor ini. Realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun, melonjak 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menyumbang 30,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp1.931,2 triliun.
Selain itu, Indonesia Transition Factbook 2025 dari BloombergNEF memperkirakan transformasi menuju ekonomi emisi nol bersih (net zero emission) membuka peluang ekonomi senilai US$3,8 triliun hingga tahun 2050. Peluang ini mencakup pengembangan industri kendaraan listrik, baterai, pengolahan mineral, hingga manufaktur pendukung.
Ketahanan Energi dan Target RUPTL
Dari aspek ketahanan energi, elektrifikasi transportasi dipandang mampu mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Langkah ini didukung oleh Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (gw).
Sekitar 76 persen atau 52,9 gw dari target tersebut akan bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi. Proyek ambisius ini diperkirakan membutuhkan investasi hingga Rp2.133,7 triliun, yang menuntut kesiapan proyek dan skema pembiayaan jangka panjang yang matang.
Peran Strategis DDMF
Dalam mendukung agenda besar ini, DDMF menjalankan mandat investasi pada proyek strategis dengan fokus pada kedaulatan nasional, infrastruktur esensial, serta hilirisasi. DDMF berperan memastikan proyek-proyek tersebut layak investasi (bankable) guna menarik modal swasta.
“Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan modal, melainkan bagaimana menyiapkan proyek yang layak investasi. DDMF akan berperan dalam pengembangan dan penyiapan proyek strategis, sekaligus berpartisipasi melalui penempatan modal,” jelas Rachmat.
Melalui integrasi transisi energi dan hilirisasi, DDMF berupaya mempercepat langkah Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045 dengan memperkuat struktur ekonomi dan produktivitas nasional. (I-2)
