
AKTIF bergerak belum cukup untuk menjaga kesehatan jika tidak diimbangi pola makan seimbang, istirahat yang cukup, dan kebiasaan hidup sehat lainnya. Karena itu, pencapaian target olahraga tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan aspek kesehatan lain, termasuk dengan mengonsumsi makanan tinggi kalori sebagai hadiah setelah beraktivitas.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Andhika Raspati, SpKO, mengatakan gaya hidup sehat mencakup sejumlah aspek yang saling berkaitan, mulai dari aktivitas fisik hingga kesehatan mental.
“Aktivitas fisik perlu berjalan bersama kecukupan istirahat, keseimbangan nutrisi, kesehatan mental, pemeriksaan kesehatan berkala, serta kebiasaan tidak merokok,” kata Andhika dalam konferensi pers dan peluncuran U-Buddy, fitur dalam aplikasi U by Prodia, di Prodia Tower, Jakarta, Rabu, (7/10).
Pola hidup tersebut penting untuk membantu mengendalikan faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Risiko penyakit ini tidak hanya berkaitan dengan kurangnya aktivitas fisik, tetapi juga pola makan, kebiasaan merokok, serta kondisi kesehatan yang perlu dipantau secara berkala.
Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular. Dalam pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis 2026, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi menjadi sejumlah faktor yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak sehat juga termasuk faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.
Jangan Membandingkan Pencapaian Olahraga
Perkembangan teknologi membuat aktivitas fisik semakin mudah dipantau. Perangkat wearable dapat mencatat jumlah langkah, durasi olahraga, hingga estimasi kalori yang terbakar. Data tersebut bahkan bisa dibagikan melalui media sosial.
Unggahan pencapaian olahraga dapat menjadi sumber motivasi. Namun, bagi sebagian orang, angka dan target yang dibagikan orang lain justru memicu tekanan untuk melakukan hal serupa, meski kemampuan fisik dan pengalaman berolahraga berbeda.
Andhika mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar pribadi. Seseorang yang mampu berlari 10 kilometer atau menyelesaikan maraton, misalnya, umumnya telah menjalani proses latihan yang panjang.
Karena itu, pemula perlu menyesuaikan latihan dengan kemampuan tubuh dan meningkatkannya secara bertahap. Target tidak harus langsung berupa jarak jauh atau durasi panjang.
Jika baru mampu berjalan kaki selama 30 menit, seseorang dapat menjadikan aktivitas tersebut sebagai titik awal sebelum meningkatkan intensitas atau durasinya.
“Memang mampunya segitu,” kata Andhika.
Dokter yang pernah menjabat sebagai Chief Medical Officer Kontingen Indonesia di Olimpiade Paris 2024 itu menegaskan, hidup sehat bukan perlombaan untuk mengumpulkan langkah terbanyak atau membakar kalori sebanyak-banyaknya. Konsistensi justru menjadi kunci agar kebiasaan sehat dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Salah satu caranya adalah memilih aktivitas yang sesuai dengan kemampuan dan terasa menyenangkan. Latihan yang terlalu berat hingga menimbulkan pegal berlebihan atau kelelahan dapat membuat seseorang kehilangan motivasi untuk kembali berolahraga.
“Salah satu cara untuk konsisten adalah bisa dinikmati. Jadi kalau sampai badannya pegal-pegal, gak enjoyable akhirnya nanti malas,” ujarnya. (B-3)
