Kiat Membantu Orang dengan Masalah Kesehatan Mental Menurut Psikolog
Ilustrasi kesehatan mental(Magnific)

PSIKOLOG anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie menekankan bahwa respons pertama saat seseorang membuka diri mengenai masalah kesehatan mentalnya sangat menentukan langkah pemulihan mereka ke depan.

Menurut Efnie, ketika seseorang mulai bercerita, hal tersebut merupakan bentuk kepercayaan yang sangat besar. “Respons pertama kita akan sangat menentukan apakah ia merasa aman untuk melanjutkan ceritanya atau justru kembali menutup diri,” ujar Efnie yang juga tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia – Himpunan Psikologi Indonesia.

Hal yang Harus Dilakukan: Validasi dan Mendengar

Efnie menyarankan beberapa langkah praktis bagi siapa pun yang menjadi tempat bersandar bagi orang dengan masalah kesehatan mental:

  • Mendengarkan secara Aktif: Berikan perhatian penuh, jangan memotong pembicaraan, dan hindari terburu-buru menawarkan solusi.
  • Validasi Emosional: Mengakui bahwa pengalaman emosional orang tersebut nyata dan layak dipahami, tanpa harus selalu menyetujui perilakunya.
  • Menawarkan Dukungan Spesifik: Tanyakan apakah mereka hanya ingin didengarkan, butuh bantuan mencari solusi, atau perlu didampingi ke tenaga profesional.
Contoh Kalimat Validasi yang Disarankan:

  • “Terima kasih sudah percaya dan mau cerita.”
  • “Aku bisa membayangkan ini bukan situasi yang mudah buat kamu.”
  • “Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”
  • “Menurut kamu, apa yang paling bisa aku bantu sekarang?”

Hal yang Harus Dihindari: Menyepelekan Emosi

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha ini juga memperingatkan agar tidak melontarkan kalimat yang bersifat menghakimi atau meremehkan (gaslighting). Ucapan yang harus dihindari antara lain:

  • “Jangan terlalu dipikirkan.”
  • “Orang lain masalahnya lebih berat.”
  • “Kurang bersyukur.”
  • “Harus kuat, jangan lemah.”
  • “Itu cuma ada di pikiran kamu.”

Penyampaian kalimat tersebut, meski bermaksud baik, dapat membuat individu merasa emosinya tidak diakui, sehingga mereka cenderung menutup diri dan merasa sendirian.

Efnie menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan, kecuali jika terdapat risiko keselamatan. Jika seseorang mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup, langkah yang harus diambil adalah:

  1. Menanyakan langsung mengenai pikiran bunuh diri tersebut.
  2. Jangan membiarkan orang tersebut sendirian.
  3. Segera hubungkan dengan tenaga profesional atau layanan darurat.

Kesehatan mental bukan sekadar kemampuan bertahan dari tekanan, melainkan bagaimana lingkungan memberikan ruang aman untuk pulih. “Terkadang, cukup menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk merasa, didengar, dan diterima,” pungkasnya. (Ant/H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *