
MUSIK dapat membantu mengenali perasaan, mengekspresikan emosi, hingga menghadapi tekanan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun, meski dapat mendukung kesejahteraan emosional, musik tidak selalu cukup untuk mengatasi masalah kesehatan mental. Pada momen Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, World Health Organization (WHO) mengangkat tema “Lived experiences heard: real voices, real change”, yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman nyata orang-orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental.
WHO juga menyoroti potensi aktivitas seni dalam membantu seseorang memahami dan mengomunikasikan emosi, memproses pengalaman sulit, serta mendukung kesejahteraan secara keseluruhan.
Psikolog Klinis Dewasa Larasati Margaretha Soetrisno menjelaskan bahwa musik dapat berperan dalam sejumlah aspek pengalaman emosional, mulai dari mengenali perasaan hingga menjadi salah satu cara menghadapi stres.
1. Membantu mengenali emosi yang sulit dijelaskan
Tidak semua orang mudah memahami atau mengungkapkan perasaan yang sedang dialami. Dalam situasi tersebut, lirik, melodi, maupun instrumen musik dapat membantu seseorang menemukan gambaran atas emosi yang sebelumnya sulit dijelaskan.
Penelitian Thomas Schäfer dan rekan-rekannya dari Chemnitz University of Technology, Jerman, mengenai fungsi psikologis musik menunjukkan bahwa orang mendengarkan musik bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk mengatur suasana hati, memahami diri sendiri, dan merasa terhubung dengan orang lain.
Larasati mengatakan, kemampuan mengenali emosi merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental.
“Tidak semua orang bisa mengenali dan menjelaskan emosinya, sehingga ketika mendengar lagu tertentu, lirik, nada, atau instrumennya dapat merepresentasikan apa yang sedang dirasakan. Musik membantu seseorang menemukan bentuk dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan,” katanya.
2. Menjadi sarana mengekspresikan perasaan
Selain membantu mengenali emosi, musik juga dapat menjadi sarana untuk mengekspresikannya. Bentuknya beragam, mulai dari mendengarkan lagu dan bernyanyi hingga memainkan alat musik atau menulis lagu.
Aktivitas tersebut dapat memiliki fungsi emosional yang berbeda. Mendengarkan lagu, misalnya, dapat membuat seseorang merasa terwakili oleh lirik atau suasana musik. Sementara itu, menciptakan musik memberikan ruang untuk menuangkan pengalaman pribadi ke dalam bentuk yang lebih konkret.
“Mendengarkan musik dapat membantu seseorang merasa terwakili atau merasa bahwa ada sesuatu yang merepresentasikan perasaannya. Sementara bernyanyi, memainkan musik, atau menulis lagu bisa menjadi bentuk mengekspresikan emosi dan melepaskan stres,” ujar Larasati.
Meski demikian, respons setiap orang terhadap musik dapat berbeda. Lagu yang menenangkan bagi seseorang belum tentu memberikan efek serupa bagi orang lain. Karena itu, penting untuk mengenali jenis musik dan aktivitas bermusik yang terasa sesuai dengan kebutuhan diri.
3. Membuat seseorang merasa tidak sendirian
Pernah mendengar sebuah lagu dan merasa liriknya menggambarkan pengalaman pribadi? Kedekatan antara lagu dan pengalaman hidup dapat membuat pendengar merasa bahwa perasaannya dapat dipahami, bahkan ketika ia kesulitan menceritakannya kepada orang lain.
Menurut Larasati, perasaan dipahami merupakan salah satu aspek penting dalam pengalaman emosional. Dalam kondisi ketika seseorang merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita, musik dapat menjadi salah satu sumber kenyamanan.
“Ketika pada suatu situasi tidak ada orang yang bisa mendengarkan atau memahami kita, musik dapat menjadi salah satu alternatif yang membuat seseorang merasa tidak sendirian,” ujarnya.
Namun, perasaan terhubung dengan sebuah lagu tidak selalu menggantikan kebutuhan untuk membangun hubungan sosial. Berbagi cerita dengan orang tepercaya tetap dapat membantu seseorang memperoleh dukungan yang lebih langsung.
4. Menjadi salah satu cara menghadapi stres
Musik juga dapat digunakan sebagai salah satu strategi menghadapi tekanan atau situasi yang terasa berat. Dalam psikologi, strategi tersebut dikenal sebagai coping, yakni upaya untuk mengelola tuntutan dan tekanan yang dihadapi.
Mendengarkan lagu yang disukai, misalnya, dapat membantu seseorang mengambil jeda, menenangkan diri, atau mengalihkan perhatian untuk sementara dari situasi yang memicu stres.
Akan tetapi, manfaat tersebut memiliki batas. Musik dapat membantu seseorang menghadapi perasaan pada saat tertentu, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan yang mendasarinya.
“Musik dapat menjadi bagian dari coping, tetapi sifatnya sementara. Musik bisa membantu kita bertahan pada saat itu, tetapi masalah yang mendasarinya belum tentu selesai. Jika memang membutuhkan bantuan profesional, tetap penting untuk mencarinya,” kata Larasati.
Dengan demikian, musik dapat menjadi bagian dari upaya merawat diri, tetapi sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya cara untuk menghadapi masalah emosional yang berkepanjangan.
5. Mengenali kapan perlu mencari bantuan profesional
Musik bukan pengganti konsultasi psikologis atau penanganan kesehatan mental. Ketika tekanan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.
Salah satu cara memahami kapan kondisi perlu mendapat perhatian lebih adalah dengan melihat beberapa aspek berikut:
- Distress: tekanan emosional yang berat, berkepanjangan, atau sulit dikelola.
- Deviance: pikiran, perasaan, atau perilaku yang sangat berbeda dari konteks dan norma yang berlaku.
- Dysfunction: gangguan yang membuat seseorang kesulitan menjalankan aktivitas atau peran sehari-hari.
- Danger: adanya risiko terhadap keselamatan diri sendiri atau orang lain.
Keempat aspek tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memahami kondisi seseorang, tetapi bukan alat diagnosis mandiri. Penilaian tetap perlu mempertimbangkan konteks, tingkat keparahan, dan kondisi individu.
Jika masalah emosional mulai mengganggu keseharian, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan yang kompeten dapat membantu seseorang memahami kondisinya dan menentukan dukungan yang sesuai. Apabila terdapat risiko langsung terhadap keselamatan diri sendiri atau orang lain, pertolongan darurat perlu segera dicari.
Larasati mengingatkan bahwa rasa malu, takut, atau ragu dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencari bantuan.
“Rasa malu, takut, atau ragu untuk datang ke psikolog itu wajar. Namun, jangan sampai hal tersebut menghalangi seseorang mendapatkan bantuan yang memang dibutuhkan. Mengenali bahwa kita membutuhkan dukungan merupakan bagian dari upaya menjaga diri,” tutupnya. (H-4)
