Hari Kesehatan Mental Sedunia, Musik Bantu Kenali dan Ekspresikan Emosi
Pengalaman emosional juga menjadi tema dalam karya musik YE, yang akan menggelar konser di Gelora Bung Karno pada 24 Oktober 2026.(Dok.Istimewa)

 

MUSIK tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat membantu seseorang mengenali perasaan, mengekspresikan emosi, dan menghadapi tekanan. Dalam momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, musik dapat menjadi salah satu ruang untuk membuka percakapan tentang kesehatan mental.

Tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema “Lived experiences heard: real voices, real change”, yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman nyata orang-orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental dan memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pengalaman tersebut.

WHO juga menjelaskan bahwa aktivitas seni dapat membantu seseorang memahami dan mengomunikasikan emosi, memproses pengalaman sulit, serta mendukung kesejahteraan secara keseluruhan.

Psikolog klinis dewasa Larasati Margaretha Soetrisno menjelaskan, musik memiliki sejumlah peran dalam membantu seseorang memahami pengalaman emosionalnya. Namun, musik tetap perlu dipahami sebagai salah satu bentuk dukungan, bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang membutuhkannya.

Musik Membantu Mengenali Perasaan

Larasati mengatakan, musik dapat membantu seseorang mengenali emosi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Lirik, melodi, dan instrumen dalam sebuah lagu terkadang mampu merepresentasikan perasaan yang sedang dialami pendengarnya.

Kemampuan mengenali emosi merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental. Penelitian Thomas Schäfer dan rekan-rekannya dari Chemnitz University of Technology, Jerman, tentang fungsi psikologis mendengarkan musik juga menunjukkan bahwa orang mendengarkan musik bukan hanya untuk hiburan, melainkan juga untuk mengatur suasana hati, memahami diri sendiri, dan membangun keterhubungan dengan orang lain.

“Tidak semua orang bisa mengenali dan menjelaskan emosinya. Ketika mendengar lagu tertentu, lirik, nada, atau instrumennya dapat merepresentasikan apa yang sedang dirasakan. Musik membantu seseorang menemukan bentuk dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan,” kata Larasati.

Musik Menjadi Sarana Mengekspresikan Emosi

Selain membantu mengenali perasaan, musik dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan emosi. Aktivitas bermusik, mulai dari mendengarkan hingga menciptakan lagu, dapat memiliki fungsi emosional yang berbeda.

Mendengarkan lagu dapat membuat seseorang merasa terwakili oleh pesan yang disampaikan. Sementara itu, bernyanyi, memainkan alat musik, atau menulis lagu dapat menjadi cara untuk menyalurkan perasaan dan mengurangi tekanan.

“Mendengarkan musik dapat membantu seseorang merasa terwakili atau merasa bahwa ada sesuatu yang merepresentasikan perasaannya. Sementara bernyanyi, memainkan musik, atau menulis lagu bisa menjadi bentuk mengekspresikan emosi dan melepaskan stres,” ujarnya.

Lagu Membuat Pendengar Merasa Dipahami

Pengalaman mendengarkan lagu yang terasa dekat dengan kehidupan pribadi dapat menumbuhkan perasaan bahwa seseorang tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.

Menurut Larasati, manusia memiliki kebutuhan untuk didengarkan dan dipahami. Ketika seseorang kesulitan menemukan orang yang dapat menjadi tempat bercerita, musik bisa menjadi salah satu alternatif untuk membangun keterhubungan emosional. “Ketika pada suatu situasi tidak ada orang yang bisa mendengarkan atau memahami kita, musik dapat menjadi salah satu alternatif yang membuat seseorang merasa tidak sendirian,” katanya.

Meski demikian, keterhubungan emosional melalui musik tidak menghilangkan pentingnya dukungan sosial. Berbicara dengan orang yang dipercaya tetap dapat menjadi langkah untuk membantu seseorang menghadapi perasaan dan pengalaman yang sulit.

Musik sebagai Strategi Menghadapi Tekanan

Musik juga dapat menjadi salah satu strategi coping, yakni upaya seseorang menghadapi tekanan atau situasi yang menimbulkan stres. Mendengarkan lagu yang menenangkan atau sesuai dengan suasana hati dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman. Namun, manfaat tersebut tidak selalu menyelesaikan persoalan yang menjadi sumber tekanan.

Larasati mengingatkan agar musik tidak dijadikan satu-satunya cara untuk menghadapi masalah kesehatan mental. “Musik dapat menjadi bagian dari coping, tetapi sifatnya sementara. Musik bisa membantu kita bertahan pada saat itu, tetapi masalah yang mendasarinya belum tentu selesai. Jika memang membutuhkan bantuan profesional, tetap penting untuk mencarinya,” ujarnya.

Mengenali Saat Membutuhkan Bantuan Profesional

Musik dapat mendukung upaya menjaga kesehatan mental, tetapi bukan pengganti konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental lainnya. Karena itu, seseorang perlu mengenali ketika tekanan emosional mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari atau menimbulkan risiko terhadap keselamatan.

Dalam materi edukasi kesehatan mental, kerangka 4D kerap digunakan untuk membantu memahami kondisi yang perlu mendapat perhatian lebih, yaitu distress, deviance, dysfunction, dan danger.

Distress mengacu pada tekanan emosional yang berat, berkepanjangan, atau sulit dikelola. Deviance merujuk pada pikiran, perasaan, atau perilaku yang sangat berbeda dari norma yang berlaku, dengan tetap mempertimbangkan konteks budaya dan situasi individu. Dysfunction menggambarkan kondisi yang mulai mengganggu aktivitas dan fungsi kehidupan sehari-hari. Adapun danger berkaitan dengan potensi bahaya terhadap diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.

Jika kondisi emosional mulai mengganggu keseharian, konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu seseorang memperoleh dukungan yang sesuai. Apabila terdapat risiko langsung terhadap keselamatan, pertolongan darurat perlu segera dicari.

Larasati menegaskan, rasa malu dan takut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk mendapatkan bantuan. “Rasa malu, takut, atau ragu untuk datang ke psikolog itu wajar. Namun, jangan sampai hal tersebut menghalangi seseorang mendapatkan bantuan yang memang dibutuhkan. Mengenali bahwa kita membutuhkan dukungan merupakan bagian dari upaya menjaga diri,” tuturnya.

Menggambarkan Pergulatan Emosional

Pengalaman emosional juga menjadi tema dalam karya musik YE, musisi yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West. Dua lagu yang menggambarkan pergulatan emosional dan upaya menemukan harapan adalah “Ghost Town” dan “Reborn”.

Lagu “Ghost Town” dari album ye yang dirilis pada 2018 mengangkat tema kerentanan, pergulatan batin, dan keinginan untuk menemukan kebebasan. Sementara itu, “Reborn”, karya kolaborasi YE dan Kid Cudi dalam album KIDS SEE GHOSTS pada tahun yang sama, mengangkat tema menghadapi masa sulit, menemukan kembali harapan, dan melanjutkan perjalanan hidup.

Kedua lagu tersebut memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi medium untuk menyampaikan pengalaman emosional yang kompleks. Bagi pendengar, lagu juga dapat menjadi ruang untuk berhenti sejenak, merefleksikan perasaan, dan menemukan cara untuk membicarakan pengalaman pribadi dengan orang lain.

Pengalaman musik tersebut juga akan dihadirkan melalui konser “YE Live in Jakarta” yang dijadwalkan berlangsung di Gelora Bung Karno pada 24 Oktober 2026. Konser ini akan menggunakan Globe Stage, panggung 360 derajat, dengan perpaduan tata cahaya, audio, dan efek piroteknik.

Melalui beragam pengalaman bermusik, pendengar dapat menemukan ruang untuk berefleksi dan mengenali perasaan. Namun, ketika masalah emosional mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari dukungan dari orang terpercaya maupun tenaga profesional tetap menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mental. (E-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *