
PEMERINTAH menyiapkan anggaran sekitar Rp635,24 miliar untuk program konversi sepeda motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik pada 2027. Anggaran tersebut ditujukan untuk mendukung konversi sekitar 63.000 unit sepeda motor.
Program yang berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu menjadi bagian dari agenda pemerintah mempercepat transisi energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya memaparkan rencana tersebut dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI pada Agustus 2026. Alokasi Rp635,24 miliar tersebut tercantum dalam RAPBN 2027 untuk program konversi motor listrik melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).
Rencana tersebut mendapat respons dari pelaku industri konversi kendaraan listrik.
Raine Renaldi, President EV-READY Group yang menaungi program EV-GO, mengatakan pihaknya akan memanfaatkan kebijakan tersebut untuk mendorong pengembangan industri konversi.
“Akan kami maksimalkan,” tandas Raine.
Menurut dia, jumlah 63.000 unit masih relatif kecil dibandingkan potensi kendaraan roda dua berbahan bakar bensin di Indonesia. Namun, kebijakan tersebut dapat menjadi titik awal terbentuknya industri konversi kendaraan listrik.
“Memang angkanya masih di bawah ekspektasi awal. Tetapi ini tetap harus kita maksimalkan. Yang paling penting bagaimana program ini berjalan dengan baik, masyarakat mendapatkan manfaat, dan ekosistem industrinya mulai terbentuk,” ujarnya di Bandung, Jumat (9/10).
Pemerintah sebelumnya menyatakan konversi kendaraan berbahan bakar bensin menjadi listrik merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menekan konsumsi BBM dan emisi. Pada Maret 2026, Bahlil menyebut jumlah sepeda motor berbahan bakar bensin di Indonesia mencapai sekitar 120 juta unit dan proses konversinya akan dilakukan secara bertahap.
DI BALI
Di sisi industri, program konversi dinilai tidak hanya berkaitan dengan penggantian mesin kendaraan. Pengembangannya juga membutuhkan fasilitas konversi, teknisi, komponen, baterai, stasiun penukaran baterai atau Battery Swap Station (BSS), perangkat lunak, IoT, pemeliharaan hingga pembiayaan.
EV-GO sendiri mengembangkan ekosistem yang mencakup teknologi konversi, BSS, IoT, fleet management dan infrastruktur energi. Bali menjadi salah satu wilayah yang disebut sebagai lokasi potensial untuk implementasi program tersebut.
Raine mengatakan Bali memiliki sejumlah faktor pendukung, mulai dari aktivitas kendaraan roda dua yang tinggi hingga dukungan kebijakan daerah terhadap kendaraan listrik berbasis baterai.
“Saya rasa Bali menjadi lokasi yang paling siap melakukan transformasi energi dan transportasi hijau. Dukungan pemerintah daerah, masyarakat, komunitas, dan regulasi akan sangat membantu,” katanya.
EV-GO sebelumnya menyiapkan gagasan konversi hingga 1 juta sepeda motor di Bali. Namun, implementasi dalam skala tersebut membutuhkan infrastruktur yang lebih besar, termasuk jaringan BSS, fasilitas servis, distribusi baterai, sistem pemantauan dan tenaga teknis.
Program konversi juga dapat menyasar kendaraan dengan tingkat penggunaan tinggi, seperti kendaraan wisata, operasional hotel, logistik dan layanan antar-jemput. Kendaraan dengan frekuensi pemakaian tinggi dinilai lebih cepat merasakan dampak efisiensi biaya operasional dari elektrifikasi.
Selain aspek ekonomi, penggunaan kendaraan listrik di kawasan wisata berpotensi mengurangi emisi dan kebisingan kendaraan bermotor.
“Dunia usaha bisa diuntungkan dengan efisiensi kendaraan listrik, sedangkan masyarakat dan wisatawan juga bisa merasakan berkurangnya polusi udara dan suara,” ujar Raine.
SIAP DIMAKSIMALKAN
Pemerintah sendiri menempatkan konversi kendaraan sebagai bagian dari agenda pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menyampaikan rencana mempercepat produksi energi surya yang terintegrasi dengan program konversi kendaraan dari BBM ke listrik.
Dengan pagu Kementerian ESDM 2027 sekitar Rp27,37 triliun, program konversi motor listrik menjadi salah satu bagian dari rangkaian kebijakan energi pemerintah. Bagi industri, alokasi untuk 63.000 unit menjadi tahap awal yang akan menunjukkan sejauh mana pasar kendaraan hasil konversi dapat berkembang.
Bagi EV-GO, dukungan kebijakan tersebut menjadi momentum untuk memperluas kesiapan industri, mulai dari fasilitas konversi hingga infrastruktur pendukung.
“Akan kami maksimalkan,” tegas Raine.
Keberhasilan program selanjutnya akan bergantung pada pelaksanaan di lapangan, kesiapan teknologi dan infrastruktur, serta penerimaan masyarakat. Program 63.000 unit pada 2027 kini menjadi salah satu tahap awal dalam perjalanan konversi kendaraan roda dua dari BBM menuju listrik.
