Permudah Peternak untuk Akses Pakan, Mentan Percepat Penyaluran SPHP Jagung
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman(Dok Kementan)

PEMERINTAH mempercepat penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk membantu peternak unggas memperoleh bahan baku pakan dengan lebih mudah, menjaga keberlangsungan produksi, dan mengurangi tekanan biaya usaha. Melalui optimalisasi stok Perum Bulog, jagung SPHP disalurkan untuk memenuhi kebutuhan peternak, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, penyaluran SPHP jagung merupakan langkah konkret pemerintah untuk menjawab keluhan peternak terkait mahalnya pakan dan terbatasnya pasokan jagung. Pemerintah memastikan stok yang tersedia segera didistribusikan, sekaligus mempercepat pengadaan untuk memenuhi kebutuhan di lapangan. 

“Yang mendesak sekarang, jagung yang ada di gudang didistribusikan sambil dilakukan pengadaan. Masih ada kuota SPHP 150.000 ton dan itu cukup,” kata Amran dalam pertemuan bersama perwakilan peternak, koperasi, dan asosiasi, Jumat (9/10).

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, distribusi jagung SPHP terus diperkuat melalui pengiriman dari sejumlah sentra produksi, antara lain Gorontalo, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan. Sekitar 15.000 ton jagung telah tiba dan menjalani proses bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk selanjutnya didistribusikan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa.

“Sekitar 15.000 ton yang turun tadi malam langsung didorong 5.000 ton ke Jawa Timur, 5.000 ton ke Jawa Tengah, dan 5.000 ton ke Jawa Barat serta Banten. Pemerintah akan selalu hadir untuk rakyat dan memberikan yang terbaik,” ujar Rizal.

Dari jumlah tersebut, sekitar 5.000 ton dialokasikan untuk Jawa Timur, 5.000 ton untuk Jawa Tengah, serta 5.000 ton untuk Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Sementara itu, stok jagung Bulog di Lampung telah mencapai lebih dari 5.000 ton untuk memenuhi kebutuhan peternak setempat.

Menurut Rizal, Bulog turut berkoordinasi dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT ASDP Indonesia Ferry untuk memperlancar pengangkutan jagung melalui jalur laut dan penyeberangan. Koordinasi dilakukan agar kapal pengangkut bahan pangan mendapat prioritas sandar, sehingga proses bongkar muat dan distribusi ke daerah tujuan dapat berlangsung lebih cepat.

“Kapal-kapal yang membawa bahan pangan kami prioritaskan untuk bisa bersandar, baik di Ketapang, Tanjung Perak, Tanjung Emas, sampai Tanjung Priok. Kami sudah mengoordinasikan agar semua barang yang berkaitan dengan bahan pangan nasional diprioritaskan,” katanya.

Rizal menegaskan, harga jagung SPHP ditetapkan sebesar Rp5.000 per kilogram di seluruh Indonesia. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan harga jagung di pasaran yang mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram, sehingga diharapkan dapat membantu meringankan biaya produksi peternak.

Di sisi lain, Kasmani dari PPN Koperasi Lampung mengatakan, stok jagung Bulog di Lampung saat ini telah mencukupi kebutuhan sekitar 100 peternak UMKM. Namun, menurutnya, kebutuhan peternak di daerah lain, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah, juga perlu mendapat perhatian karena sebelumnya masih mengalami kekurangan pasokan.

“Untuk Lampung, stok jagung Bulog sekitar 5.000 ton lebih dan sudah mencukupi kebutuhan peternak UMKM. Namun, yang kami pikirkan adalah peternak di seluruh Indonesia, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah yang sebelumnya masih mengalami kekurangan jagung,” ujar Kasmani.

Ia menjelaskan, harga jagung di pasaran Lampung berkisar Rp8.000–Rp8.400 per kilogram, sedangkan melalui program SPHP peternak dapat memperoleh jagung seharga Rp5.000 per kilogram. Ia berharap penyaluran jagung SPHP tahap berikutnya dapat terus berjalan sehingga ketersediaan bahan baku pakan tetap terjaga dan peternak UMKM mampu mempertahankan usahanya hingga Februari 2027.

Selain mempercepat distribusi, Kementan menyiapkan penguatan pasokan jagung dari hulu. Hingga Desember 2026, Kementan memberikan bantuan benih jagung gratis untuk lahan seluas 20.000 hektare yang dikelola petani binaan koperasi peternak. Petani juga akan didukung bantuan alat dan mesin pertanian untuk meningkatkan produksi.

Dalam skema tersebut, hasil panen petani dapat diserap langsung oleh peternak yang membina mereka. Apabila produksi melebihi kebutuhan peternak, Bulog dapat bertindak sebagai pembeli atau offtaker. Pemerintah juga menyiapkan skema resi gudang agar hasil panen yang belum terserap dapat dibeli dan disimpan Bulog sebagai cadangan milik koperasi, yang dapat dimanfaatkan kembali ketika pasokan jagung berkurang. (E-4)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *