Unjuk Rasa Siswa di Prancis Membesar: Ratusan Ribu Orang Turun ke Jalan, Polisi Soroti Penyusup
Gelombang protes siswa SMA di Prancis meluas hingga melibatkan mahasiswa dan serikat buruh. Ratusan ribu orang turun ke jalan menuntut perbaikan fasilitas sekolah.(AFP)

RATUSAN ribu orang turun ke jalan di berbagai kota di Prancis. Gelombang aksi unjuk rasa yang awalnya dimotori oleh para siswa SMA kini meluas dan mendapatkan dukungan dari orang tua, mahasiswa, hingga serikat buruh.

Aksi yang dijuluki “Aksi Ketiga” (Act Three) ini dipicu oleh kekecewaan atas kondisi fasilitas sekolah yang rusak, kelas yang terlalu padat, serta kekurangan tenaga pengajar. Pergerakan yang bermula pertengahan September lalu dari wilayah Seine-Saint-Denis di pinggiran utara Paris kini telah menyebar ke seluruh negeri, termasuk ke beberapa perguruan tinggi.

Di Paris, massa remaja bergerak dari Place de la République. Mereka menuntut tambahan anggaran pendidikan serta mendesak kepolisian menghentikan tindakan represif. Unjuk rasa juga mewarnai kota-kota besar lain seperti Lyon, Marseille, dan Rennes. Meski polisi sempat menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air (water cannon), eskalasi bentrokan relatif lebih rendah dibandingkan aksi-aksi sebelumnya.

Perbedaan Data Jumlah Massa dan Dampak Protes

Pemerintah melaporkan gangguan terjadi di 891 SMA, hampir seperempat dari total lycée di Prancis, dengan jumlah demonstran mencapai lebih dari 250.000 orang sepanjang hari. Namun, serikat siswa mengklaim angka yang jauh lebih besar, yakni 450.000 demonstran dan 1,800 sekolah yang terblokade.

Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sebanyak 6.547 orang telah dihentikan atau ditangkap polisi sejak 28 September.

Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengecam aksi kekerasan yang sempat terjadi sebelumnya. Ia menyebut sejak protes dimulai, sebanyak 215 siswa, 85 staf sekolah, dan 715 personel polisi mengalami luka-luka. Di hadapan parlemen, Lecornu mengkritik partai sayap kiri radikal France Unbowed (LFI) dan menuding mereka berusaha “menabur kekacauan” menjelang pemilihan presiden tujuh bulan mendatang.

Presiden Emmanuel Macron, yang kini memasuki masa jabatan kedua sekaligus terakhirnya, dijadwalkan memimpin rapat bersama para menteri di Istana Élysée untuk mengevaluasi situasi keamanan nasional.

Sorotan pada Dugaan Represi Kepolisian

Laporan terkait dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat kepolisian kini memicu keprihatinan luas dan sedang diinvestigasi oleh badan pengawas kepolisian Prancis (IGPN). Dua insiden parah menimpa remaja dalam aksi belakangan ini:

  • Insiden Saint-Ouen-l’Aumône: Eden (14 tahun) mengalami patah tulang rahang dan kehilangan beberapa gigi setelah wajahnya dihantam tembakan granat gas air mata saat memblokade sekolahnya. Jaksa penuntut telah menetapkan petugas polisi terkait sebagai tersangka atas dugaan tindak kekerasan yang mengakibatkan mutilasi atau cacat permanen.
  • Insiden Lens: Seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan tangannya akibat ledakan granat anti-encirclement di dekat sebuah sekolah. Otoritas menyebut korban memungut granat ledak (sting ball) yang kemudian meledak, sementara para siswa mengklaim korban terkena tembakan langsung aparat saat polisi berhadapan dengan kelompok massa.

Keluhan dari Lapangan dan Rencana Aksi Lanjutan

Kondisi sekolah yang memprihatinkan menjadi alasan utama para siswa bertahan di jalan. “Sebagian besar dari kami tidak bertindak kasar,” ujar Alissa, seorang siswa di Marseille. “Kami turun ke jalan karena sekolah kami ditutup… sekolah-sekolah mulai hancur.”

Temannya, Sacha, menambahkan bahwa atap sekolah-sekolah di Marseille bocor dan kondisinya secara umum cukup buruk, “sehingga kami tidak benar-benar bisa belajar dalam waktu yang lama.” Ia menegaskan, “Kami akan terus melakukan ini sampai ada langkah-langkah konkret yang diambil.”

Aksi ini juga mendapat simpati dari generasi senior. Alain dan Michèle, pasangan suami istri berusia 70-an tahun yang juga mantan guru, ikut berunjuk rasa di pusat kota Paris untuk mendukung cucu-cucu mereka.

“Kami adalah kakek dan nenek dari tiga siswa yang semuanya terlibat mobilisasi. Mereka berdemonstrasi secara damai di depan SMA mereka masing-masing di Paris dalam beberapa hari terakhir, tetapi mereka tetap ditembak gas air mata,” kata Alain dengan suara gemetar.

Langkah pemerintah, seperti menyediakan situs web penampung aspirasi dan sesi diskusi internal di sekolah, dinilai belum mampu meredakan amarah massa. Serikat buruh terbesar di Prancis, CGT, mengonfirmasi gelombang protes lanjutan yang melibatkan siswa dan mahasiswa telah direncanakan. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *