
KEPALA Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Syahganda Nainggolan, merespons peristiwa penganiayaan dan ancaman pembunuhan oleh orang tidak dikenal terhadap Koordinator Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Hafidz Haernanda, di kawasan Jakarta Selatan.
Syahganda menyatakan bahwa pemerintah menyerahkan sepenuhnya penanganan dan pengusutan kasus kekerasan tersebut kepada jajaran kepolisian untuk membongkar motif sebenarnya di balik insiden penyerangan tersebut.
“Soal kekerasan terhadap mahasiswa, itu kan tentu tupoksi daripada aparat hukum sedang menyelidiki. Tapi Bapak Presiden sendiri, itu dia pro-demokrasi ya. Walaupun kelihatan seperti pemimpin yang karismatik, tapi di banyak porsi kalau Bapak-Bapak, Ibu-Ibu sekalian lihat, dia sering bertemu dengan wartawan, artinya dia ingin terbuka, ya kan? Dia membiarkan mahasiswa demo. Lihat saja anak-anak demo UI apa segala enggak pernah dilarang,” ujar Syahganda di Kantor Bakom RI, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Syahganda meminta semua pihak untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum kepolisian menyelesaikan proses penyelidikan secara obyektif dan akuntabel. Ia meminta kekerasan tersebut tidak dikaitkan dengan upaya pembungkaman atau penghentian aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa. Ia mengatakan Presiden Prabowo mendukung setiap aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa.
“Dia membebaskan dulu ada Delpedro dan teman-teman yang dipenjara karena demo Agustus 2025 yang keras. Jadi Bapak Presiden sekali lagi yang kita pahami adalah pro-demokrasi dan urusan tadi, kasus itu kita belum tahu, kita serahkan kepada aparat untuk menyelidiki apakah kekerasan itu karena aktivisme seorang mahasiswa atau kasus lain,” pungkas Syahganda. (H-3)
