
CURAH hujan yang rendah dalam beberapa waktu terakhir berdampak signifikan pada ketersediaan air baku di Kota Batam, Kepulauan Riau. Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Nongsa dilaporkan merosot tajam hingga menyentuh angka 5,5 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang mulai mengganggu distribusi air bersih ke masyarakat setempat.
Saat ini, TMA Waduk Nongsa berada sekitar 4,5 meter di bawah kondisi normal yang seharusnya mencapai 10 mdpl. Padahal, waduk ini memiliki kapasitas TMA puncak hingga 12,7 mdpl. Penurunan drastis ini dipicu oleh minimnya intensitas hujan yang mengakibatkan debit air baku yang masuk ke waduk berkurang drastis.
Merespons kondisi tersebut, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, meninjau langsung lokasi Waduk Nongsa pada Senin (5/10/2026). Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan langkah-langkah teknis darurat segera diimplementasikan guna menjaga ketahanan air baku.
“Hari ini saya turun langsung agar persoalan air bagi masyarakat Nongsa bisa diatasi dengan cepat. Beberapa langkah teknis juga sudah dilakukan agar persoalan ini tidak berlarut-larut,” ujar Amsakar pada Selasa (6/10).
Langkah Teknis Interkoneksi Pipa
Sebagai solusi jangka pendek, BP Batam tengah menyiapkan penyambungan pipa interkoneksi. Skema ini akan mengalirkan air baku dari embung di kawasan Kebun Raya Nongsa menuju Waduk Nongsa. Tambahan debit air ini diharapkan mampu menaikkan TMA waduk secara bertahap.
“Kami berupaya mendorong debit air di waduk ini agar posisi 5,5 meter ini secara bertahap bisa meningkat. Paling tidak, dengan interkoneksi pipa ini, bisa naik satu atau dua meter,” jelas Amsakar.
Selain interkoneksi dari Kebun Raya Nongsa, BP Batam juga melakukan pemasangan pipa tambahan dengan diameter 250 milimeter dan 300 milimeter. Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan kinerja mesin booster agar distribusi air tetap mampu menjangkau area permukiman warga meskipun tekanan air baku sedang menurun.
Imbauan Hemat Air dan Ikhtiar Spiritual
Kondisi Waduk Nongsa kini menjadi perhatian serius otoritas setempat mengingat kebutuhan air masyarakat tetap tinggi di tengah menyusutnya sumber air baku. Amsakar mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan menghemat penggunaan air selama masa krisis ini berlangsung.
Selain upaya teknis, Amsakar juga mengajak masyarakat untuk melakukan ikhtiar spiritual dengan melaksanakan salat Istisqa guna memohon turunnya hujan di wilayah Batam.
“Ikhtiar teknis kita lakukan, mari ikhtiar spiritual juga kita lakukan agar persoalan bisa teratasi,” pungkasnya. (H-2)
