
BERAKTIVITAS di luar ruangan dan terpapar sinar matahari tidak selalu menjadi jaminan tercukupinya kebutuhan vitamin D bagi seseorang. Sejumlah faktor, mulai dari gaya hidup modern di dalam ruangan, penggunaan tabir surya, warna kulit, hingga kondisi tubuh tertentu, memegang peranan besar dalam menentukan kadar vitamin D seseorang.
Konsultan dermatologi dari National Skin Centre, Dr. Crystal Phuan, mengingatkan bahwa paparan sinar matahari tanpa perlindungan tetap harus dibatasi karena dapat meningkatkan risiko kanker kulit.
“Sangat bijaksana untuk membatasi waktu di bawah sinar matahari tanpa perlindungan matahari karena meningkatnya risiko kanker kulit,” ujar Dr. Phuan dalam siaran Channel News Asia, Jumat (2/10).
Meskipun sinar matahari membantu tubuh memproduksi vitamin D, sengaja memaparkan kulit tanpa pelindung terhadap sinar ultraviolet (UV) belum tentu efektif, terutama bagi kelompok rentan seperti lanjut usia dan pemilik kulit gelap.
Gaya Hidup Perkotaan dan Hambatan Alami
Sementara itu, pendiri dan direktur medis Aquila Medical Center, Dr. Stephen Chu, menyoroti bahwa rendahnya paparan sinar UVB bukan hanya disebabkan oleh tabir surya, melainkan pola hidup masyarakat modern.
Mayoritas pekerja perkotaan berpindah dari satu gedung ber-AC ke gedung lainnya—mulai dari apartemen, tempat parkir, kantor, hingga pusat perbelanjaan—tanpa benar-benar terpapar matahari langsung. Infrastruktur kota seperti jalan setapak berkanopi dan jalur bawah tanah turut memperkecil peluang warga mendapatkan sinar matahari.
Berdasarkan studi pada 2019 terhadap 213 pekerja di dalam ruangan, hampir 33 persen partisipan mengalami kekurangan vitamin D. Risiko ini bahkan lebih tinggi pada pekerja kantor, pekerja bengkel, serta pekerja shift malam.
Selain itu, Dr. Sueziani Binte Zainudin, konsultan endokrinologi senior dari Ascensus Health, menegaskan bahwa duduk di dekat jendela kaca juga tidak efektif. Kaca biasa terbukti menghalangi sebagian besar sinar UVB yang dibutuhkan tubuh untuk mensintesis vitamin D.
Faktor Warna Kulit dan Obesitas
Faktor biologis turut memengaruhi kemampuan tubuh memproduksi vitamin D. Kulit dengan pigmen atau melanin yang lebih banyak menyerap radiasi UVB sebelum memicu reaksi kimia untuk sintesis vitamin D.
Sebagai contoh, studi di Singapura pada 2013 menunjukkan tingkat kekurangan vitamin D lebih tinggi pada perempuan Melayu (89 persen) dan perempuan India (82 persen) dibandingkan perempuan Tionghoa (56 persen). Faktor gaya berpakaian dan preferensi sosial yang lebih banyak menutupi kulit juga turut memengaruhi hal ini.
Selain warna kulit, obesitas juga diidentifikasi sebagai faktor risiko. Vitamin D merupakan vitamin yang larut dalam lemak, sehingga mudah tersimpan di dalam jaringan tubuh dan menghambat penggunaannya secara optimal oleh organ lain. Subjek dengan obesitas tercatat memiliki kadar vitamin D hingga 57 persen lebih rendah dibandingkan orang yang lebih kurus.
Kebutuhan vitamin D menjadi sangat krusial selama kehamilan untuk mendukung metabolisme kalsium dan fosfat bagi janin. Dalam studi kecil tahun 2024 terhadap 93 perempuan hamil pada trimester pertama, hanya 2,2 persen yang memiliki kadar vitamin D cukup, bahkan seluruh partisipan hamil dari etnis Melayu dan India tercatat mengalami kekurangan.
Solusi Pemenuhan Kebutuhan Vitamin D
Bagi masyarakat yang minim paparan matahari atau memiliki risiko tinggi, pemenuhan kebutuhan vitamin D dapat disiasati melalui pengaturan pola makan dan konsumsi suplemen di bawah pengawasan dokter.
Dr. Phuan menyarankan beberapa sumber makanan tinggi vitamin D, antara lain:
- Ikan berlemak: Seperti salmon dan trout.
- Produk pangan yang diperkaya (fortified food): Susu, yogurt, sereal, serta susu nabati (kedelai, almond, dan oat). Dua gelas susu atau jus jeruk yang diperkaya (masing-masing sekitar 240 ml) setiap hari dapat menjadi pilihan.
- Jamur tertentu: Jamur yang diolah dengan paparan sinar ultraviolet dan berlabel “Vitamin D”.
Secara umum, orang dewasa sehat membutuhkan sekitar 600 IU vitamin D per hari, sementara lansia di atas usia 70 tahun dianjurkan mengonsumsi sekitar 800 IU per hari. Bagi individu yang mengalami defisiensi parah, dosis lebih tinggi dapat diberikan atas rekomendasi dokter.
(Ant/P-4)
