
DI tengah bayang-bayang inflasi yang persisten dan perasaan suram mengenai masa depan ekonomi, konsumen Amerika Serikat justru menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Aktivitas belanja rumah tangga terus meningkat, menjadi mesin utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melampaui ekspektasi banyak pihak.
Data terbaru dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan bahwa jumlah uang yang dibelanjakan oleh rumah tangga AS melonjak 6,1% dalam 12 bulan hingga Agustus 2026. Angka ini naik signifikan dibandingkan pertumbuhan tahunan sebesar 4,3% pada akhir tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi untuk kuartal kedua tahun 2026 juga direvisi naik, didorong oleh belanja konsumen yang kuat dan investasi bisnis.
Mesin Utama Pertumbuhan PDB
Austan Goolsbee, Kepala Federal Reserve Chicago, menegaskan bahwa meskipun ada banyak pembicaraan mengenai pusat data AI, mesin utama pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di Amerika Serikat tetaplah pertumbuhan belanja konsumen yang berbasis luas. Menurutnya, hal ini berkaitan erat dengan pasar tenaga kerja yang stabil.
Meskipun perekrutan melambat bulan lalu, tingkat pengangguran tetap berada pada level yang rendah secara historis. Kondisi ini memberikan rasa aman bagi warga untuk tetap membelanjakan uang mereka, mulai dari kebutuhan pokok hingga barang mewah dan hiburan.
Anomali Sentimen dan Realitas Belanja
Fenomena yang menarik saat ini adalah adanya pemutusan hubungan (decoupling) antara sentimen konsumen dan perilaku belanja. Indeks sentimen bulanan dari University of Michigan dan The Conference Board menunjukkan angka yang mendekati rekor terendah dalam 12 tahun terakhir, dipicu oleh harga bensin yang tinggi dan situasi politik yang memanas.
Namun, rasa tidak puas tersebut tidak menghentikan warga untuk mengeluarkan uang. “Angka makro terlihat bagus, belanja terlihat bagus, tapi tidak ada yang merasa bahagia,” ujar Brian Fabes, peneliti senior di NORC, Universitas Chicago.
Peningkatan belanja ini didorong oleh dua faktor utama:
- Kenaikan Harga: Sekitar separuh dari peningkatan belanja disebabkan oleh inflasi yang mencapai 3,4% pada periode tersebut.
- Volume Pembelian: Belanja yang disesuaikan dengan inflasi tetap tumbuh sebesar 2,6%, menunjukkan bahwa warga memang membeli lebih banyak barang dan jasa.
Kesenjangan Berdasarkan Kekayaan
Daya beli ini juga didukung oleh peningkatan kekayaan bersih, terutama bagi warga senior yang memiliki rumah dan saham. Indeks S&P 500 yang memberikan imbal hasil sekitar 32% sejak Mei 2025 telah membuat pemilik aset merasa lebih nyaman untuk berbelanja lebih banyak.
Di sisi lain, warga dengan pendapatan rendah mulai merasakan tekanan. Bagi kelompok ini, belanja bukan lagi pilihan melainkan keharusan untuk bertahan hidup di tengah biaya perumahan dan pangan yang tinggi. Banyak warga mulai mengandalkan tabungan dan kartu kredit untuk membiayai pengeluaran mereka.
Catatan Risiko: Tingkat tabungan warga AS saat ini berada di level rendah secara historis, yakni 4,1% dari pendapatan setelah pajak, turun hampir setengahnya dibandingkan masa sebelum pandemi. Para ekonom memperingatkan bahwa pertumbuhan belanja ini bisa terhenti jika cadangan tabungan habis dan beban utang semakin menumpuk.
Proyeksi Musim Liburan
Meskipun ada kekhawatiran mengenai keberlanjutan daya beli, sektor bisnis tetap optimistis. Mastercard memproyeksikan belanja liburan di AS akan meningkat 5,5% tahun ini, yang merupakan laju pertumbuhan tercepat sejak 2022. Hal ini mempertegas pepatah ekonomi saat ini: konsumen membelanjakan uang berdasarkan kondisi finansial mereka, bukan berdasarkan suasana hati atau psikologi mereka. (The Wall Street Journal/I-2)
