
KELOMPOK Houthi yang disokong Iran mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, kilang minyak Aramco di Rabigh, serta sejumlah situs militer di wilayah selatan Arab Saudi.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan tersebut menggunakan kombinasi drone, rudal balistik, dan rudal jelajah. Ledakan keras terdengar bergemuruh di ibu kota Riyadh pada Senin malam waktu setempat, menandai eskalasi pertempuran terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, koalisi militer pimpinan Arab Saudi merespons serangan tersebut dengan menggempur basis kekuatan Houthi di pesisir Laut Merah. Juru bicara koalisi, Turki Al-Malki, mengungkapkan lewat platform X bahwa pasukan angkatan laut mereka berhasil menghancurkan target-target militer di Hodeida.
“Pasukan berhasil menghancurkan depot senjata, fasilitas penyimpanan kapal berpeledak, serta ranjau laut, sekaligus menggagalkan rencana serangan yang menargetkan jalur pelayaran di selatan Laut Merah,” ujar Turki Al-Malki.
Eskalasi militer ini terjadi seiring langkah pemerintah Yaman yang didukung koalisi Saudi untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi. Pihak militer Yaman melaporkan telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan udara dan memulai ofensif ke ibu kota Sanaa, didukung oleh 100 jet tempur koalisi yang terbang sejak fajar.
Menanggapi situasi keamanan yang memburuk, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menggelar pertemuan darurat di Riyadh di bawah pakta pertahanan bersama yang disepakati Agustus lalu. Ketiga negara sepakat untuk mengambil langkah yang diperlukan guna menyediakan kemampuan militer dan memastikan penempatan pasukan secara cepat di Arab Saudi.
PBB menyuarakan keprihatinan mendalam atas eskalasi pertempuran ini. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa Sekjen PBB “sangat prihatin dengan peningkatan tajam dalam pertempuran” dan mengecam “serangan lintas batas yang terus dilakukan Houthi” ke wilayah Arab Saudi.
Serangan berulang terhadap infrastruktur energi Saudi dan jalur pelayaran Laut Merah turut memperparah krisis minyak global. Sumber di sektor energi Saudi menyebutkan bahwa serangan pada hari Minggu kembali menghentikan pemompaan pipa minyak East-West, saluran vital ekspor minyak mentah Arab Saudi.
Chief Executive Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa stok minyak global saat ini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan akibat perang.
“Sistem pasokan minyak global saat ini sudah sangat tertekan,” kata Amin Nasser saat berbicara di Energy Intelligence Forum di London.
Konflik Yaman yang pecah sejak 2014 ini kini menjadi salah satu front paling aktif di kawasan. Menurut data PBB, pertempuran sengit yang kembali membara dalam beberapa pekan terakhir telah memaksa lebih dari 184.000 warga mengungsi dari rumah mereka. (AFP/Z-2)
