Dampak Hipertensi pada Tubuh: Bahaya Tersembunyi Tekanan Darah Tinggi
Ilustrasi.(Magnific)

HAMPIR setengah dari orang dewasa di Amerika Serikat menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi, tetapi diperkirakan 11 juta di antara mereka tidak menyadarinya. Kondisi ini menjadi penyebab utama kematian yang dapat dicegah, karena meningkatkan risiko penyakit jantung, penyakit ginjal, hingga stroke.

“Hipertensi adalah salah satu penyakit yang paling krusial untuk dicegah karena dampaknya yang luas terhadap berbagai organ tubuh,” ujar Tamar Polonsky, ahli kardiologi dan direktur kardiologi preventif di University of Chicago Medicine.

Kabar baiknya, dengan pengobatan yang tepat, mayoritas pasien dapat mencapai tingkat tekanan darah yang wajar. Namun, tantangan terbesarnya adalah sifat hipertensi yang senyap (silent killer)–sering kali tidak menunjukkan gejala hingga memicu masalah kesehatan serius. Berikut tekanan darah tinggi merusak tubuh secara perlahan jika tidak ditangani:

1. Kerusakan Arteri

Tekanan darah tinggi yang tidak diobati menyebabkan arteri di seluruh tubuh menebal. Arteri yang menebal menjadi kurang efisien dalam mengalirkan darah, menjadi lebih kaku, sempit, dan rentan pecah. Hal ini meningkatkan risiko darurat medis seperti stroke atau diseksi aorta.

Selain itu, hipertensi merusak dinding pembuluh darah, menciptakan kondisi yang memungkinkan kolesterol dan lemak menumpuk membentuk plak (aterosklerosis). Jika plak ini pecah atau menyumbat aliran darah, serangan jantung dapat terjadi.

2. Beban Berat pada Jantung

Wanpen Vongpatanasin dari UT Southwestern Medical Center menjelaskan bahwa hipertensi menyebabkan otot jantung menebal dan membesar. Kondisi ini dapat berujung pada gagal jantung, di mana jantung melemah dan kesulitan memompa darah secara memadai. Penelitian menunjukkan bahwa hingga 91 persen pasien gagal jantung memiliki riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya.

3. Ancaman bagi Otak

Hipertensi adalah faktor risiko utama stroke iskemik (penyumbatan arteri otak) dan stroke hemoragik (pecahnya pembuluh darah otak). Selain stroke, tekanan darah tinggi juga berdampak jangka panjang pada fungsi kognitif. Mengontrol tekanan darah dengan baik terbukti dapat mencegah penurunan kognitif dan perkembangan demensia.

4. Gangguan Penglihatan

Pembuluh darah kecil menuju mata juga bisa menebal dan mengganggu aliran darah ke retina. Kondisi yang disebut retinopati hipertensi ini dapat menyebabkan pandangan kabur hingga kehilangan penglihatan. Sering kali, dokter mata menjadi orang pertama yang mendeteksi hipertensi pada pasien melalui pemeriksaan retina.

5. Masalah Organ Seksual

Aliran darah yang terganggu akibat hipertensi juga berdampak pada kesehatan seksual. Pada pria, penumpukan plak di arteri dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Sementara pada wanita, berkurangnya aliran darah ke area vagina diduga dapat menurunkan gairah seksual.

6. Kerusakan Ginjal

Ginjal memiliki pembuluh darah kecil (glomeruli) yang rapuh untuk menyaring limbah. Tekanan darah yang terlalu kuat dapat membebani dan merusak filter ini, yang memicu penyakit ginjal kronis. Situasi darurat hipertensi (lonjakan tekanan darah mendadak) sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen secara instan.

7. Nyeri pada Kaki

Hipertensi berkontribusi pada penyakit arteri perifer (PAD), di mana aliran darah ke anggota tubuh berkurang akibat penumpukan plak. Hal ini menyebabkan nyeri kaki, kram, dan kesulitan berjalan, yang sering kali membuat penderitanya menjadi kurang aktif secara fisik.

Langkah Pencegahan:

  • Menerapkan diet DASH (fokus pada sayur, buah, gandum utuh, dan protein tanpa lemak).
  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin.
  • Berhenti merokok.
  • Rutin melakukan cek tekanan darah secara berkala.
  • Mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter jika sudah terdiagnosis. (The Washington Post/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *