
FAKULTAS Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (FPIK UNDIP) bersama Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) mengembangkan beras pratanak (parboiled rice) Low Glycemic Index (LGI) merek Q-Tha.
Inovasi ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah gabah sekaligus mendorong kesejahteraan petani di tengah tingginya biaya produksi dan persoalan pupuk.
Pembina SPPQT, Bahruddin, mengatakan pengolahan gabah menjadi beras pratanak diharapkan dapat meningkatkan harga jual sehingga berdampak pada peningkatan harga gabah di tingkat petani.
Pendampingan FPIK UNDIP terhadap Rumah Produksi Qaryah Thayyibah telah berlangsung sejak 2025, meliputi kelayakan usaha dan penerapan standar keamanan pangan HACCP. Pada 2026, pendampingan dilanjutkan melalui penyusunan business plan berbasis green and blue farming.
Selain beras parboiled LGI, dikembangkan empat produk lain, yakni integrated farming, Gulanas (gula LGI), empon-empon, dan budidaya ikan nila saline.
Ketua Tim Pengabdian FPIK UNDIP, Nur Taufiq-Spj, mengatakan program tersebut diarahkan untuk menghadirkan inovasi pangan berbasis riset yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi petani.
“Melalui pendampingan di Rumah Produksi Qaryah Thayyibah, kami mendorong penerapan teknologi beras parboiled LGI agar menghasilkan beras sehat bernutrisi tinggi sekaligus meningkatkan taraf ekonomi petani binaan secara berkelanjutan,” katanya.
FPIK UNDIP dan SPPQT juga sepakat mendirikan PT Agro Tekno Lestari sebagai holding company untuk memperkuat pengembangan usaha. Kolaborasi tersebut mendukung SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. (E-2)
