
PERINGATAN HUT ke-81 TNI harus menjadi momentum untuk memperkuat keamanan sekaligus memastikan perlindungan masyarakat sipil di Papua. Penanganan situasi keamanan juga dilakukan secara profesional, terukur, dan tetap mengedepankan prinsip kemanusiaan.
Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin mengatakan kekuatan TNI tidak hanya diukur dari kemampuan menghadapi ancaman, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. Hal itu dinilai penting di tengah masih terjadinya kontak tembak antara prajurit TNI dan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM).
“Di Papua, keamanan dan pembangunan harus berjalan beriringan agar masyarakat dapat hidup dengan tenang dan pembangunan terus berlangsung,” kata Nurul dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/10).
Menurut dia, penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata harus dilakukan secara profesional dan terukur dengan tetap memperhatikan keselamatan warga sipil serta prinsip kemanusiaan.
Selain itu, Nurul menilai pendekatan keamanan saja tidak cukup untuk menciptakan stabilitas di Papua. Penanganan keamanan perlu berjalan beriringan dengan pembangunan, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Yang kita harapkan adalah terciptanya Papua yang aman sehingga masyarakat bisa menjalankan aktivitas, anak-anak bisa bersekolah dan pembangunan bisa berjalan. Karena itu, pendekatan keamanan harus berjalan bersama pendekatan pembangunan dan kesejahteraan,” ujarnya.
Karena itu, Nurul meminta TNI terus menjaga kepercayaan masyarakat melalui kehadiran yang profesional dan mampu memberikan perlindungan. Menurut dia, TNI juga harus semakin dekat dengan masyarakat sekaligus mampu menghadapi berbagai tantangan pertahanan dan keamanan.
“Yang paling penting, kekuatan itu pada akhirnya harus bermuara pada terciptanya rasa aman dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah TNI dan kelompok bersenjata OPM terlibat kontak tembak di Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Sabtu (3/10).
Panglima Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto mengatakan dua pimpinan OPM tewas dalam kontak senjata tersebut.
Keduanya yakni Komandan Komando Wilayah Pertahanan II TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Arso Aisnak dan Komandan Batalyon TPNPB-OPM Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya Yohanes KY. (H-2)
