Rupiah Hari Ini 5 Oktober 2026: Melemah ke Rp17.917 imbas Konflik Timur Tengah
ilustrasi(Antara)

Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (5/10). Berdasarkan data pasar, mata uang domestik terkoreksi 35 poin ke level Rp17.917 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh pelemahan hingga 75 poin. Angka ini menurun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.882.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah untuk perdagangan Selasa besok masih akan fluktuatif namun cenderung ditutup melemah. Ia memperkirakan rentang pergerakan berada di kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS, sementara untuk sepanjang minggu ini diprediksi bergerak di rentang Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS.








Indikator Perdagangan Nilai/Rentang
Penutupan Senin (5/10) Rp17.917 per dolar AS
Pelemahan Poin 35 Poin (Intraday sempat 75 poin)
Proyeksi Besok Rp17.910 – Rp17.960
Proyeksi Mingguan Rp17.750 – Rp18.050

Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Energi

Ibrahim mengungkapkan bahwa fluktuasi rupiah hari ini sangat dipengaruhi oleh gejolak di Timur Tengah. Dampak nyata dari konflik tersebut adalah hilangnya 25% sumber pasokan impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia. Kondisi ini memaksa pemerintah melakukan langkah proaktif untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Pemerintah kini melakukan strategi hunting atau pencarian langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok BBM. Langkah ini diambil karena mekanisme pengadaan melalui lelang konvensional menghadapi kendala minimnya peserta di tengah ketidakpastian global.

Prioritas Pemerintah dalam Ketahanan BBM:

  • Menjaga harga BBM subsidi (Solar dan Bensin) agar tidak mengalami kenaikan.
  • Memastikan ketahanan stok BBM nasional tetap berada pada level aman 18–20 hari.

Tantangan Distribusi dan Faktor El Nino

Selain masalah pasokan global, Ibrahim menyoroti kendala distribusi di dalam negeri. Munculnya antrean BBM di sejumlah wilayah tidak selalu mencerminkan krisis stok nasional, melainkan sering kali disebabkan oleh hambatan logistik di lapangan.

Fenomena El Nino turut memperburuk situasi dengan mengeringnya jalur distribusi sungai. Kondisi ini memaksa pengiriman BBM dialihkan menggunakan truk, yang secara teknis lebih lambat dan memiliki kapasitas terbatas dibandingkan pengiriman melalui jalur air. Meskipun strategi pencarian pasokan alternatif berpotensi menghasilkan harga beli yang lebih tinggi, langkah tersebut dinilai krusial demi menjamin ketersediaan energi di tengah ketidakpastian global. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *