
Produk baja buatan Kendal, Jawa Tengah, melakukan ekspor perdana produk jadi baja ringan ke Australia pada Jumat (2/10) sebanyak 60.000 batang. PT Auri Steel Metalindo, produsen baja tersebut, menetapkan potensi ekspor sebesar 6.000 ton per tahun senilai Rp132 miliar.
Ekspor perdana ini menjadi pencapaian perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pertama di Kawasan Industri Kendal (KIK) yang mengekspor produk jadi baja ke luar negeri. Auri Steel Metalindo didirikan pada 28 September 2016, berawal dari produksi baja ringan dan atap galvalum untuk kebutuhan konstruksi dengan kapasitas sekitar 5 ton per hari. Secara bertahap, kapasitas meningkat hingga 120 ton per hari pada akhir 2022.
Perkembangan tersebut tercermin dari pertumbuhan skala usaha. Nilai investasi perusahaan juga meningkat dari sekitar Rp180 miliar menjadi Rp1 triliun. Jumlah tenaga kerja juga tumbuh dari 7 orang pada 2016 menjadi 100 orang pada 2022, dan saat ini mencapai 480 orang, dengan target 1.500 orang pada 2028.
Berawal dari UMKM, perusahaan ini kemudian dibina oleh Kementerian Perindustrian serta Kementerian Investasi/BKPM, Administrator Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Direktorat Jenderal Pajak.
Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Eko Agus Nugroho menyatakan capaian ini sejalan dengan upaya mendorong industri manufaktur berorientasi ekspor, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, serta memperkuat daya saing industri logam nasional.
“Pemerintah berkomitmen terus mendampingi pelaku industri melalui kebijakan hilirisasi, penguatan ekosistem, serta perluasan akses pasar ekspor guna mengoptimalkan potensi devisa negara. Pencapaian ini juga memberikan dampak ikutan yang luas bagi perekonomian nasional melalui penyerapan tenaga kerja, penguatan rantai pasok lokal, serta pergerakan sektor logistik dan industri pendukung,” kata Eko.
Sementara itu, Direktur PT Auri Steel Metalindo Auripallas Pramana menyatakan ekspor perdana ini membuktikan bahwa perusahaan PMDN dapat tumbuh dan membawa produk dalam negeri ke pasar internasional. “Kami berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi PMDN lainnya untuk berani membawa produknya ke kancah global,” ungkap Pramana.
Executive Director Kawasan Industri Kendal Juliani Kusumaningrum mengatakan pencapaian hari ini menjadi terobosan karena selama ini ekspor sektor baja Indonesia banyak didominasi bahan mentah atau setengah jadi. “Langkah ini menunjukkan bahwa industri manufaktur dalam negeri memiliki daya saing global, standar mutu internasional, dan kapasitas untuk menembus pasar seperti Australia,” ujar Juliani.(X-6)
