Kampus Didorong Lahirkan Banyak Inovasi demi Optimalkan Potensi Aceh
Ketua Majelis Wali Amanat USK Safrizal ZA membuka rapat kerja USK.(USK)

Universitas Syiah Kuala (USK) didorong tidak berhenti sebagai institusi pendidikan dan pusat riset, tetapi mampu mengubah potensi sumber daya Aceh menjadi produk, teknologi, dan kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi daerah. Dorongan tersebut disampaikan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) USK Dr. Safrizal ZA saat membuka rapat kerja USK di Ballroom Gayo Petro Hotel, Kota Takengon, Aceh Tengah, Jumat malam (2/10).

Safrizal mengatakan tema rapat kerja yang mencakup penguatan good university governance, hilirisasi dan inovasi riset berkelanjutan, serta peningkatan Indikator Kinerja Utama (IKU) menuju USK bereputasi global harus diterjemahkan menjadi target yang terukur di setiap fakultas.

Menurut dia, masing-masing fakultas perlu memiliki tanggung jawab yang jelas dalam mencapai target tersebut. Kinerja juga harus diukur dengan indikator tertentu sehingga pencapaian maupun kegagalan dapat menjadi dasar pemberian apresiasi atau evaluasi terhadap pimpinan fakultas. Tuntutan tersebut, kata Safrizal, menjadi semakin penting karena USK harus menjalankan berbagai agenda dengan anggaran sekitar Rp900 miliar.

Dengan keterbatasan anggaran tersebut, ia meminta efisiensi tidak hanya dipahami sebagai penghematan, tetapi juga diikuti dengan penciptaan inovasi dan sumber pendapatan baru bagi kampus.

Lima Tantangan USK sebagai PTN BH

Safrizal mengatakan perubahan teknologi dan struktur ekonomi global membuat sumber keunggulan ikut bergeser. Jika sumber keunggulan pada era industri sebelumnya banyak bertumpu pada sumber daya alam dan mesin, perkembangan Industri 4.0 ditandai oleh pemanfaatan artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), big data, cloud computing, robotika, dan bioteknologi. Sementara dunia kini bergerak menuju Industri 5.0 yang menempatkan manusia, keberlanjutan, dan ketahanan (human centric, sustainability, dan resilience) sebagai tiga pilar utama.

Dalam konteks tersebut, Safrizal menyebut ada lima tantangan yang perlu dijawab USK sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH).

Pertama, menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang tersedia. Ia mencontohkan potensi pertanian Aceh Tengah yang menurutnya perlu didukung USK melalui pengembangan teknologi dan produk bernilai tambah.

Kedua, penguasaan teknologi. USK didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta teknologi. Untuk mendukung hal tersebut, Safrizal mendorong fakultas mengembangkan lini bisnis yang dapat menghasilkan pendapatan dan kemudian digunakan untuk mendukung inovasi.

Ketiga, memperbanyak riset yang mampu membuka peluang baru.

Keempat, mengembangkan talenta di lingkungan USK agar memiliki nilai bagi dunia ilmu pengetahuan maupun kebutuhan industri.

Kelima, menghadapi kompetisi global dengan mengubah sumber daya menjadi keunggulan, kemudian mengubah keunggulan tersebut menjadi inovasi.

“USK sering kita sebut besar. Kita harus bertanggung jawab atas nama besar itu. Aceh kaya tapi tak memiliki industri yang memadai untuk mengolah sumber daya Aceh medapatkan nilai tambah. USK harus mampu mendorong lahirnya industri yang menciptakan nilai tambah. Ini tugas Rektor. Beliau harus mampu berkomunikasi dengan stakeholder di luar kampus, supaya sumber daya bisa diubah menjadi keunggulan,” kata Safrizal.

Riset Harus Terhubung dengan Kebutuhan Aceh

Dorongan untuk memperkuat hilirisasi tersebut sejalan dengan agenda riset USK yang dalam beberapa bulan terakhir juga diarahkan agar hasil penelitian tidak berhenti pada laporan maupun publikasi. LPPM USK, misalnya, telah membuka skema Program Penelitian dan Hilirisasi Inovasi melalui pendanaan PTNBH 2026.

Dalam rapat kerja tersebut, Safrizal juga menyoroti sektor pertanian sebagai salah satu bidang yang dapat menjadi ruang kontribusi konkret perguruan tinggi.

Ia menilai Aceh memiliki potensi pertanian, tetapi sebagian kebutuhan produksi masih berasal dari luar daerah. Kondisi tersebut menurutnya membuat sebagian perputaran ekonomi kembali keluar dari Aceh. Karena itu, USK didorong mengembangkan riset yang dapat menghasilkan benih dan bibit unggul untuk mendukung sektor pertanian daerah.

“Kita selama ini impor semua kebutuhan. Kita hanya surplus padi sebelum bencana. Kampus harus mampu menciptakan benih dan bibit unggul untuk sektor pertanian. Supaya uang Aceh tidak semakin banyak mengalir ke luar,” imbuhnya.

Bagi Safrizal, tantangan USK bukan hanya meningkatkan reputasi akademik, tetapi memastikan pengetahuan dan riset yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi teknologi, produk, maupun solusi yang dibutuhkan masyarakat dan dunia usaha.

Arah tersebut juga sejalan dengan agenda internal USK yang tengah memperkuat ekosistem riset, kolaborasi, dan hilirisasi. Pada Agustus 2026, LPPM USK menegaskan hasil penelitian diharapkan bergerak dari laporan dan publikasi menuju inovasi, pemanfaatan, dan hilirisasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *