Dokumen Bocor Ungkap Kampanye Hitam Emirat Arab Targetkan Muslim Amerika
Ilustrasi.(Magnific)

ARSIP dokumen yang bocor mengungkap kampanye pencemaran nama baik yang didanai oleh Emirat Arab untuk menargetkan organisasi dan tokoh Muslim di Amerika Serikat. Kampanye ini bertujuan merusak reputasi mereka dengan tuduhan keterkaitan dengan Ikhwanul Muslimin.

Berdasarkan laporan Drop Site News, Jumat (2/10), firma intelijen swasta asal Jenewa, Alp Services, menyewa peneliti AS, Lorenzo Vidino, untuk menyusun laporan mengenai organisasi Muslim Amerika. Vidino, yang merupakan kepala Program Ekstremisme di Universitas George Washington, menghasilkan laporan berjudul The MB in the US pada tahun 2018.

Daftar Hitam tanpa Bukti

Laporan Vidino mencantumkan puluhan nama individu dan kelompok masyarakat sipil arus utama sebagai bagian dari jaringan ekstremis rahasia. Beberapa organisasi yang masuk dalam daftar tersebut antara lain:

  • Council on American-Islamic Relations (CAIR)
  • Islamic Society of North America (ISNA)
  • Muslim Public Affairs Council (MPAC)
  • Muslim American Society (MAS)
  • Islamic Relief USA

Meskipun laporan tersebut tidak menyertakan bukti kuat untuk mendukung tuduhannya, dokumen ini efektif menjadi daftar hitam yang digunakan untuk merusak reputasi target di tengah upaya Emirat mendorong AS menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Operasi Arnica 6 dan Taktik Smear Campaign

Dokumen yang diperoleh Mediapart dan konsorsium European Investigative Collaborations mengungkap rencana operasi berkode Arnica 6. Rencana ini mencakup taktik agresif seperti:

  • Penempatan media yang bermusuhan.
  • Pemberian pengarahan tanpa atribusi kepada jurnalis.
  • Penyuntingan negatif pada laman Wikipedia target.
  • Penyampaian informasi merugikan ke database kepatuhan peraturan.
  • Lobi politik secara diam-diam.

Vidino dilaporkan menerima biaya sekitar 2.000 euro (sekitar Rp34 juta) untuk memproduksi laporan tersebut, yang kemudian dipoles oleh Alp Services untuk klien mereka, entitas Emirat bernama ARIAF Studies and Research LLC.

Dampak Politik dan Hukum di AS

Upaya untuk mengaitkan kelompok Muslim Amerika dengan ekstremisme terus berlanjut. Pada Agustus 2026, subkomite Senat AS mengadakan sidang bertajuk Hidden in Plain Sight: Confronting the Muslim Brotherhood Network in America. Dalam sidang tersebut, saksi-saksi mengutip karya Vidino untuk mendesak tekanan hukum dan finansial terhadap kelompok seperti CAIR.

Di tingkat negara bagian, Gubernur Texas Greg Abbott dan Gubernur Florida Ron DeSantis mengeluarkan proklamasi yang menetapkan Ikhwanul Muslimin dan CAIR sebagai organisasi teroris pada akhir 2025 dan September 2026. Langkah ini mencakup pembekuan aset dan larangan kepemilikan tanah.

Baca juga: Konflik Kepentingan Mantu Trump Investasi di Perusahaan Militer Israel

Tanggapan Aktivis Muslim Amerika

Para aktivis yang namanya tercantum dalam dokumen tersebut membantah keras tuduhan tersebut. Salam Al-Marayati, presiden MPAC, menyebut taktik ini sebagai upaya marginalisasi politik. “Jika mereka tidak bisa memenangkan argumen, reaksi mereka ialah menuduh kami sebagai ‘serigala berbulu domba’ atau ‘kuda Troya’,” ujarnya.

Osama Abu Irshaid dari American Muslims for Palestine menambahkan bahwa Emirat memainkan peran yang mendestabilisasi karena merasa kepentingan mereka terancam oleh aspirasi kebebasan dan integrasi komunitas Muslim di Barat. “Klaim bahwa kami adalah bagian dari konspirasi besar hanyalah kebohongan besar,” tegasnya.

Catatan Redaksi: Hingga berita ini diturunkan, Lorenzo Vidino, Alp Services, dan Kementerian Luar Negeri Emirat tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait dokumen yang bocor tersebut. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *