
HARGA pangan dan emas perhiasan menjadi komoditas utama yang mendorong inflasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Kepri mencapai 3,49 persen, meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan Agustus yang berada di level 3,87 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Roni Widijarto P, menjelaskan bahwa tekanan inflasi tahunan masih didominasi oleh sejumlah komoditas yang harganya tetap tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
“Besarnya andil pada sejumlah komoditas tersebut menunjukkan bahwa level harganya masih relatif tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Roni, Minggu (4/10).
Berdasarkan data BPS, emas perhiasan memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Kepri, yakni sebesar 0,44 persen. Komoditas lain yang turut berkontribusi signifikan adalah angkutan udara (0,30 persen), bensin (0,27 persen), nasi dengan lauk (0,26 persen), dan beras (0,18 persen).
Roni menyebutkan, tingginya harga emas perhiasan sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga emas global. Sementara itu, harga bensin dan tarif angkutan udara masih bertahan di atas level harga tahun sebelumnya.
Di sektor pangan, harga nasi dengan lauk tetap tinggi akibat akumulasi kenaikan harga pada periode sebelumnya, ditambah tingginya biaya bahan baku serta faktor produksi. Meski inflasi tahunan Kepri melandai, angka 3,49 persen ini masih berada di atas rata-rata inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,28 persen.
Tekanan Inflasi Bulanan
Secara bulanan (month-to-month), Kepri justru mengalami tekanan baru dengan inflasi sebesar 0,27 persen pada September, setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,17 persen pada Agustus.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan kenaikan 0,88 persen dan andil 0,26 persen. Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas cabai merah, kangkung, cabai rawit, serta daging ayam ras.
“Kenaikan harga cabai dipengaruhi keterbatasan panen dari sejumlah daerah sentra produksi di Sumatera bagian utara dan Jawa. Sementara harga daging ayam ras meningkat seiring kenaikan permintaan dan keterbatasan pasokan,” jelasnya.
Selain pangan, kelompok pendidikan juga menyumbang inflasi sebesar 0,41 persen dengan andil 0,03 persen, yang dipicu oleh biaya akademi dan perguruan tinggi selama periode pendaftaran ulang pada September.
Namun, tekanan inflasi sedikit tertahan oleh kelompok transportasi yang mengalami deflasi 0,25 persen. Penurunan ini disebabkan oleh tarif angkutan udara yang memasuki periode low season setelah masa liburan berakhir.
Kondisi Spasial dan Regional
Secara spasial, seluruh wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kepri mengalami inflasi. Batam mencatat inflasi tahunan 3,65 persen, Tanjungpinang 3,76 persen, dan Karimun 1,63 persen.
Di tingkat regional Sumatera, inflasi Kepri menempati posisi kelima tertinggi. Posisi pertama ditempati Aceh (5,03 persen), disusul Kepulauan Bangka Belitung (4,30 persen), Lampung (3,51 persen), dan Sumatera Barat (3,50 persen).
Langkah Antisipasi Oktober
Memasuki Oktober, Bank Indonesia mewaspadai volatilitas harga emas dunia, tekanan imported inflation, serta potensi kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai.
BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berkomitmen memperkuat sinergi melalui peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta koordinasi intensif.
“Diharapkan langkah-langkah ini dapat menjaga inflasi Kepri pada akhir 2026 tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen,” pungkas Roni.
