Pelajar SMA Ciptakan Alat Ubah Kelembapan Udara Jadi Air Bersih
Tim Gen V SMAN 21 Jakarta memenangi National Innovation Challenge 2026 lewat inovasi O2H, perangkat pengubah kelembapan udara menjadi air bersih.(PJI)

Persoalan keterbatasan akses air bersih mendorong sekelompok siswa SMA di Jakarta mengembangkan perangkat yang memanfaatkan kelembapan udara untuk menghasilkan air. Inovasi tersebut mengantarkan Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta menjadi pemenang National Innovation Challenge 2026. Tim tersebut mengembangkan O2H: Atmospheric Water Harvesting System, perangkat ringkas yang dirancang untuk mengubah kelembapan udara menjadi air melalui proses penyaringan dan sterilisasi.

Inovasi itu menjadi salah satu dari beragam solusi yang dikembangkan siswa dalam program Young Voices for a Sustainable Future-Innovation Challenge for a Just Transition, hasil kolaborasi BASF Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia (PJI). Sebanyak 50 siswa yang tergabung dalam 10 tim finalis mempresentasikan inovasi mereka dalam babak final National Innovation Challenge di kantor BASF Indonesia, Jakarta. Mereka memaparkan solusi atas berbagai persoalan lingkungan dan sosial, mulai dari limbah makanan dan tekstil, pencemaran lingkungan, keterbatasan air bersih, hingga kebutuhan energi alternatif.

“O2H: Atmospheric Water Harvesting System berawal dari kepedulian kami terhadap keterbatasan akses air bersih yang dialami sejumlah rumah tangga dan komunitas, terutama saat musim kemarau. Karena itu, kami merancang perangkat ringkas yang dapat mengubah kelembapan udara menjadi air bersih melalui proses penyaringan dan sterilisasi. Pencapaian ini memotivasi kami untuk terus belajar dan menyempurnakan inovasi ini agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Muhammad Rizqi Sugianto, perwakilan Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta.

Solusi Berangkat dari Masalah Sekitar

Program tersebut melibatkan 100 siswa yang tergabung dalam 20 tim dari 16 SMA di wilayah Jabodetabek sejak April 2026. Para peserta diminta mengidentifikasi persoalan yang mereka temukan di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar sebelum mengembangkan solusi.

Dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics), ide-ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk, perangkat berbasis teknologi, maupun platform digital.

Dalam kompetisi final, setiap tim mempresentasikan persoalan yang ingin diselesaikan, konsep dan manfaat solusi, target pengguna, hingga rencana pengembangan prototipe di hadapan dewan juri yang berasal dari dunia usaha, sektor pendidikan, dan praktisi keberlanjutan. Inovasi para peserta mencakup enam tema, yakni Aksi Iklim, Air dan Sanitasi, Konsumsi Bertanggung Jawab, Ekonomi Sirkular dan Pengurangan Limbah, Energi Berkelanjutan, serta Solusi Digital untuk Keberlanjutan.

Sejumlah ide memanfaatkan material sisa menjadi produk bernilai tambah. Peserta lainnya mengembangkan teknologi untuk pengelolaan air dan energi serta memanfaatkan AI, sensor, aplikasi digital, dan analisis data untuk mendukung perilaku yang lebih ramah lingkungan.

Kasubtim Peserta Didik, Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI Rurry Fatchurrachman mengatakan proses tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan pengetahuan di sekolah dengan persoalan yang mereka temukan di lingkungan sekitar.

“Program ini memberi ruang bagi siswa untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Melalui proses mengenali persoalan dan mengembangkan solusi, siswa mengasah penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Pengalaman belajar seperti ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mewujudkan delapan dimensi profil lulusan,” ungkap Rurry.

Riset dan Prototipe

Sebelum mencapai babak final, peserta mengikuti proses pengembangan ide dengan pendekatan design thinking. Mereka diajak mengamati lingkungan, memahami pihak yang terdampak, merumuskan masalah, kemudian melakukan riset untuk mengembangkan solusi.

Peserta juga memperoleh pendampingan dari mentor BASF untuk mempertajam perumusan masalah, menentukan target pengguna, menguji relevansi solusi, dan menyusun rencana pengembangan prototipe.

Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati mengatakan proses tersebut penting karena siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai persoalan lingkungan, tetapi juga belajar menguji dan memperbaiki gagasan yang mereka kembangkan.

“Generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar informasi tentang masalah lingkungan. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk mencari tahu penyebab masalah, mencoba berbagai gagasan, bekerja sama, menerima masukan, dan memperbaiki solusi yang mereka kembangkan. Pengalaman ini menunjukkan kepada siswa bahwa pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah dapat digunakan untuk membantu menjawab kebutuhan masyarakat. Proses tersebut juga membangun keterampilan dan kepercayaan diri mereka dalam menghadapi masa depan,” ujar Utami.

Presiden Direktur BASF Indonesia Dr. Christofer Arisandy mengatakan transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan membutuhkan kemampuan generasi muda untuk memahami persoalan sekaligus mengembangkan solusi yang relevan.

“Transisi menuju perekonomian yang lebih berkelanjutan memerlukan lebih dari sekadar kemajuan teknologi. Diperlukan pula generasi muda yang memiliki kemampuan untuk memahami berbagai tantangan di sekitarnya, mengidentifikasi peluang dan menciptakan nilai tambah, serta menghadirkan solusi yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Christofer.

Melalui program Young Voices for a Sustainable Future, ia menambahkan, para siswa dipacu untuk menunjukkan bahwa inovasi dapat berawal dari permasalahan sehari-hari dan berkembang menjadi gagasan yang memberikan dampak nyata melalui riset, kreativitas, dan kolaborasi. 

“Potensi tersebut perlu terus didorong dan dikembangkan guna mendukung terwujudnya masa depan yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, hasil kompetisi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan lingkungan di sekitar siswa diterjemahkan menjadi gagasan teknologi. Tantangan berikutnya adalah pengembangan prototipe dan pengujian lebih lanjut agar solusi yang dihasilkan dapat digunakan sesuai kebutuhan masyarakat. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *