
PAUS Leo XIV menyerukan pentingnya menetapkan batasan yang jelas antara karya seni buatan manusia dengan hasil produksi mesin di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Seruan ini disampaikan sebagai respons atas kekhawatiran terhadap hilangnya nilai kemanusiaan dalam karya kreatif.
“Di era kecerdasan buatan ini, membedakan seni manusia dari hasil karya mesin kini menjadi sangat mendesak,” tulis Paus Leo XIV melalui platform X pada Jumat (2/10/2026).
Dalam pernyataannya, Paus menyoroti adanya perbedaan mendasar atau ontologis antara seni yang lahir dari pengalaman manusia dengan hasil buatan mesin. Ia menjelaskan bahwa AI bekerja berdasarkan perhitungan statistik dari jutaan gambar yang telah dibuat oleh orang lain, bukan melalui proses kreatif yang otentik.
Secara tegas, Paus Leo XIV menyatakan bahwa teknologi memiliki keterbatasan dalam meniru esensi jiwa manusia. “Algoritma tidak memiliki sentuhan kemanusiaan,” ujarnya.
Desakan Regulasi dan Martabat Manusia
Pernyataan ini muncul di tengah serangkaian insiden di mana kemampuan AI dianggap telah melampaui batas-batas yang sebelumnya diperkirakan oleh banyak pihak. Kondisi tersebut, ditambah dengan peringatan dari para pakar teknologi, memicu gelombang tuntutan agar perkembangan AI diperlambat dan diatur melalui regulasi yang lebih ketat.
Sebelumnya, pada September lalu, Paus Leo XIV juga telah menekankan pentingnya etika dalam pengembangan teknologi. Ia menyatakan bahwa kecerdasan buatan harus:
- Menjunjung tinggi martabat manusia.
- Memperkuat perdamaian dunia.
- Berlandaskan pada kebijaksanaan.
- Memiliki kepedulian terhadap sesama.
| Poin Utama | Pernyataan Paus Leo XIV |
|---|---|
| Urgensi Utama | Membedakan seni manusia dengan hasil mesin AI. |
| Kritik Algoritma | AI hanya bekerja berdasarkan statistik gambar, tanpa sentuhan kemanusiaan. |
| Landasan AI | Harus menjunjung martabat, perdamaian, dan kebijaksanaan. |
| Status Regulasi | Muncul seruan untuk pengaturan yang lebih ketat. |
Seruan ini menambah panjang daftar tokoh dunia yang mulai mengkhawatirkan dampak eksistensial AI terhadap kreativitas dan nilai-nilai kemanusiaan di masa depan. (Anadolu/Ant/I-1)
