BMKG Peringatkan Dampak El Nino Kuat dan Risiko Karhutla hingga 2027
ilustrasi(Antara)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terkait fenomena El Nino fase sangat kuat yang melanda Indonesia. Kondisi ini diprediksi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, sekaligus meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menjelaskan bahwa meskipun puncak kemarau dan El Nino telah terlewati pada periode Agustus hingga September, dampaknya masih dirasakan secara signifikan di berbagai wilayah. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis (1/10).

Menurut Marjuki, fenomena ini dipicu oleh peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi tersebut menyebabkan perairan di wilayah Indonesia mengalami pendinginan, yang berakibat pada minimnya potensi uap air dan terhambatnya pertumbuhan awan hujan.

“Sejak Maret pula kami memprediksi bahwa akibat dari aktifnya El Nino berbarengan dengan musim kemarau, maka musim kemarau kita secara umum itu akan menjadi lebih panjang dan menjadi lebih kering,” ujar Marjuki.

Prediksi Hingga Awal 2027

Berdasarkan pemodelan cuaca terbaru BMKG, fenomena El Nino ini diprediksi masih akan bertahan hingga awal 2027. Durasi yang panjang ini berimplikasi langsung pada mundurnya awal musim hujan secara nasional dari waktu normalnya.

Data BMKG menunjukkan sebanyak 529 zona musim, atau setara dengan 61,08 persen luasan daratan Indonesia, mengalami kemunduran awal musim hujan. Sementara itu, hanya 26 zona musim yang berada pada kondisi normal, dan 11 zona musim tercatat mengalami awal musim hujan lebih maju.

Analisis Curah Hujan:

  • Oktober: Wilayah selatan ekuator masih cenderung sangat rendah curah hujannya dan kering.
  • November: Kondisi diperkirakan mulai membaik dengan curah hujan kategori menengah di wilayah selatan.
  • Desember: Wilayah Indonesia diproyeksikan mulai memasuki musim penghujan secara merata dan normal.

Penguatan Mitigasi dan Koordinasi

Menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla yang berkepanjangan, BMKG terus mengintensifkan pemantauan cuaca serta memperkuat koordinasi lintas instansi. Langkah ini diambil untuk memastikan kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh pihak terkait.

Upaya mitigasi difokuskan pada optimalisasi penanganan dampak kekeringan dan dukungan operasi pemadaman karhutla di daerah-daerah prioritas. Strategi penanganan di lapangan akan terus disesuaikan dengan dinamika kondisi cuaca dan iklim yang dipantau secara real-time oleh BMKG. (Ant/E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *