
AMERIKA Serikat (AS) mengerahkan kapal induk ketiganya ke perairan sekitar Iran di tengah perang yang memasuki bulan kedelapan. Langkah tersebut dilakukan ketika Washington dan Teheran menghadapi pilihan antara meningkatkan eskalasi militer atau melanjutkan jalur diplomatik.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Al Jazeera, Jumat (2/10) bahwa kelompok serang kapal induk USS Theodore Roosevelt meninggalkan pangkalannya di San Diego pada Minggu dan bergerak menuju kawasan tersebut. Sehari kemudian, Pasukan Ekspedisi Marinir yang dibawa oleh USS Makin Island juga diberangkatkan. Kapal tersebut membawa lebih dari 2.000 personel Marinir AS.
Pejabat tersebut mengatakan bahwa pada akhir November, tiga kapal induk dan dua kelompok pendaratan amfibi diperkirakan akan ditempatkan di sekitar Iran. Menurutnya, konsentrasi kekuatan militer tersebut akan memberikan Presiden Donald Trump lebih banyak pilihan apabila memutuskan mengambil tindakan militer.
Puluhan Ribu Tentara AS di Kawasan
Tanya Noury dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Washington, mengatakan pengerahan terbaru tersebut mencakup ribuan personel serta tambahan kekuatan udara, termasuk jet tempur F-35.
Kekuatan baru itu akan menambah sekitar 50.000 personel militer Amerika Serikat yang telah berada di kawasan tersebut. Noury, mengutip sumber di Pentagon dan Gedung Putih, mengatakan tujuan pengerahan tersebut adalah memastikan opsi militer tetap tersedia bagi Trump, terlepas dari perkembangan diplomasi.
Pentagon disebut tidak berencana menarik aset militernya meskipun kesepakatan dengan Iran tercapai. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga mengatakan pasukan Amerika Serikat siap bertindak jika Trump memberikan perintah untuk melancarkan serangan baru.
Trump sendiri masih menyampaikan ancaman terkait kemungkinan aksi militer. Dalam wawancara dengan Fox News, ia mengatakan yakin AS akan memenangkan perang dengan Iran segera.
Dalam pernyataan lainnya, Trump mengisyaratkan bahwa kembalinya aksi militer mungkin terjadi. Namun, ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kemungkinan tersebut sebelum pemilihan paruh waktu pada November.
Selain meningkatkan kekuatan militer, Washington juga memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran. Amerika Serikat pada pekan ini menjatuhkan sanksi terhadap konglomerat perkeretaapian dan otomotif Iran. Departemen Keuangan AS menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi sumber pendapatan Iran yang masih tersisa.
Jalur Diplomasi Tetap Terbuka
Di tengah peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat, Iran mendorong sebuah peta jalan selama tujuh hari yang disampaikan melalui Qatar. Dalam proposal tersebut, Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan kelanjutan pembicaraan mengenai program nuklir sebagai imbalan atas penghentian blokade laut oleh AS, pencabutan sanksi, serta gencatan senjata regional yang mencakup Lebanon dan Yaman.
Namun, rencana tersebut kemudian ditolak Trump. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan kepada NBC bahwa tuntutan terkait pembekuan dana dan pencabutan sanksi tidak dapat dinegosiasikan.
“Ini bukan hanya sanksi Amerika Serikat, ini adalah sanksi global,” kata Waltz, sembari merujuk pada tujuh resolusi Dewan Keamanan PBB yang menentang program senjata nuklir Iran.
Di sisi lain, respons Iran juga menunjukkan dua arah, yakni tetap membuka ruang diplomasi sembari mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik berlanjut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada NBC bahwa Teheran sepenuhnya siap untuk melanjutkan perang.
“Kami tidak datang ke New York untuk menjual perang. Kami datang untuk menempa perdamaian,” tulis Araghchi di X.
Sinyal Berbeda dari Washington dan Teheran
Sejumlah analis menilai pernyataan yang tampak berbeda dari kedua pihak tersebut merupakan bagian dari strategi negosiasi. Abas Aslani dari Center for Middle East Strategic Studies mengatakan perselisihan antara Washington dan Teheran kini bergeser dari persoalan apakah kedua pihak akan bernegosiasi menjadi persoalan siapa yang akan meninggalkan pengaruh utama terlebih dahulu.
Sementara itu, mantan Duta Besar AS Richard Schmierer menilai Trump berada di antara dua pilihan, yakni menunda keputusan hingga melewati pemilihan paruh waktu atau menghadapi konsekuensi politik jika memberikan konsesi yang mendekati kesepakatan Juni yang sebelumnya dikritiknya.
Di dalam negeri Amerika Serikat, dukungan terhadap perang juga dilaporkan mengalami penurunan. Menurut jajak pendapat terbaru AP-NORC, hampir 70% warga Amerika Serikat mengatakan perang tersebut tidak layak diperjuangkan. Trump menanggapi penurunan peringkat persetujuannya dengan menepis hasil jajak pendapat tersebut dan menuduh lembaga survei terkait sebagai korup. (Fer/P-3)
