
Kebutuhan pengelolaan kekayaan nasabah high net worth (HNW) mulai bergeser. Selain mengejar pertumbuhan aset, mereka semakin memperhatikan keberlangsungan bisnis, perlindungan kekayaan, hingga bagaimana aset yang telah dibangun dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Presiden Direktur AIA Harysa Prasetyo mengatakan perubahan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan solusi bagi nasabah segmen premium. Menurut dia, kekayaan tidak lagi sekadar diukur dari besarnya aset, tetapi juga dari kemampuan menjaga nilai dan manfaatnya dalam jangka panjang.
“Inilah yang menjadi inspirasi AIA bersama mitra kami BCA dalam menghadirkan Prestige Pro. Prestige Pro dirancang untuk menjawab kebutuhan nasabah yang semakin kompleks dan semakin visioner,” kata Harysa dalam peluncuran Prestige Pro, Jakarta, Jumat (2/10).

Harysa mengacu pada Agility Wealth Lens 2026 Indonesia Report yang menunjukkan sejumlah prioritas nasabah HNW, mulai dari business continuity, financial freedom, health and well-being, hingga comfortable retirement.
Perhatian terhadap keberlanjutan kekayaan juga terlihat dari perencanaan suksesi. Harysa menyebut 94% responden HNW dalam studi tersebut telah menyiapkan succession plan, termasuk mereka yang masih berada dalam usia produktif.
Namun, menurut dia, persiapan tersebut belum sepenuhnya menutup kebutuhan perlindungan. Masih terdapat protection gap, terutama dalam menjaga keberlangsungan bisnis dan kekayaan keluarga.
“Mereka memahami bahwa membangun kekayaan membutuhkan waktu yang panjang, untuk itu butuh persiapan yang berlapis, demi menghindari dampak akibat terjadinya risiko,” ujarnya.
Perubahan tersebut turut memengaruhi ekspektasi terhadap layanan keuangan. Nasabah HNW tidak hanya membutuhkan solusi untuk mengakumulasi kekayaan, tetapi juga perlindungan kesehatan, perencanaan waris, serta mekanisme transfer aset kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks itu, AIA bersama BCA meluncurkan Prestige Pro dalam denominasi dolar Amerika Serikat (USD). Produk tersebut ditujukan untuk kebutuhan proteksi dan legacy nasabah premium, sekaligus memberikan pilihan diversifikasi aset dalam mata uang berbeda.
Sementara itu, Direktur BCA Haryanto Budiman mengatakan kebutuhan tersebut berjalan seiring dengan perkembangan bisnis wealth management BCA. Menurut dia, pengelolaan kekayaan mencakup tiga komponen utama, yakni asset accumulation, asset protection, dan asset transfer.
“Yang menarik adalah CASA kita juga tetap tumbuh. Jadi itu menunjukkan bahwa memang nasabah-nasabah kita ini di berbagai lapisan, di berbagai segmen, membutuhkan produk-produk investasi,” kata Haryanto.
Pertumbuhan bisnis tersebut tercermin dari asset under management (AUM) BCA yang meningkat dari Rp139 triliun pada 2022 menjadi Rp339 triliun pada Juni 2026.
Menurut Haryanto, pertumbuhan wealth management tersebut tidak membuat bisnis transaction banking tergerus. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan karena kebutuhan nasabah terhadap produk investasi terus berkembang.
Untuk segmen premium, salah satu kebutuhan yang muncul adalah diversifikasi aset dalam lebih dari satu mata uang. Karena itu, produk yang baru diluncurkan tersebut menggunakan denominasi USD, melengkapi produk dalam denominasi rupiah yang sebelumnya telah tersedia melalui WP Pro.
“Karena untuk segmen premium, nasabah membutuhkan diversifikasi aset, bukan hanya di satu mata uang, tapi di mata uang yang lain. Makanya produk ini dalam denominasi dolar AS,” ujarnya.
Pengembangan solusi tersebut juga menjadi bagian dari kerja sama AIA dan BCA yang telah berjalan sekitar 20 tahun. Haryanto mengatakan kolaborasi distribution bank assurance kedua perusahaan dimulai pada 2006.
Selama periode tersebut, kerja sama keduanya telah melalui berbagai dinamika. Haryanto berharap kolaborasi dapat terus berkembang, terutama dengan menghadirkan produk yang mengikuti perubahan kebutuhan nasabah.
Ia juga mengapresiasi proses pengembangan produk tersebut hingga memperoleh persetujuan regulator. “Saya yakin AIA juga akan selalu menginovasi, mengintroduce produk-produk baru sesuai dengan kebutuhan dari para nasabah kita,” kata Haryanto. (Z-10)
