
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat luas panen padi pada Agustus 2026 mencapai 1,08 juta hektare. Angka tersebut turun 2,83% dibandingkan dengan luas panen pada Agustus 2025 yang mencapai 1,11 juta hektare.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, secara kumulatif luas panen padi pada Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare. Angka itu masih tumbuh tipis 0,11% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Untuk luas panen padi pada Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare atau naik sebesar 0,11% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10).
Namun, BPS memperkirakan luas panen pada September-November 2026 mencapai 2,23 juta hektare. Angka tersebut berpotensi turun 0,33 juta hektare atau 12,97% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dengan demikian, luas panen padi sepanjang Januari-November 2026 diperkirakan mencapai 10,56 juta hektare. Angka tersebut turun 2,98% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Ateng menegaskan angka untuk periode September-November tersebut masih bersifat potensi dan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi pertanaman di lapangan. “Angka potensi masih dapat berubah, tentunya tergantung pada kondisi pertanaman padi pada September sampai dengan November 2026,” jelasnya.
Sejumlah faktor dapat memengaruhi realisasi luas panen, antara lain serangan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu pelaksanaan panen oleh petani. Ateng mengatakan, perkembangan luas panen pada 2026 perlu dicermati, terutama jika dibandingkan dengan kondisi pada 2023 yang juga terdampak fenomena El Nino.
Menurutnya, luas panen Januari-Agustus 2026 masih menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan periode yang sama pada 2025. Namun, potensi luas panen hingga November 2026 menunjukkan adanya dampak yang perlu menjadi perhatian.
Potensi luas panen Januari-November 2026 yang mencapai 10,56 juta hektare memang lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan periode Januari-November pada 2023 maupun 2024. BPS menegaskan angka potensi tersebut masih dinamis dan akan diperbarui berdasarkan perkembangan kondisi lapangan dalam rilis-rilis berikutnya.
“Angka potensi luas panen ini masih bersifat dinamis dan tentunya dapat berubah mengikuti pola kondisi lapangan seperti adanya serangan hama atau OPT, banjir, kekeringan, serta realisasi waktu panen petani yang mengalami perubahan,” kata Ateng.
Produksi Padi Turun
Sejalan dengan perkembangan luas panen, produksi padi pada Agustus 2026 juga mengalami penurunan. BPS mencatat produksi padi pada bulan tersebut mencapai 5,46 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 2,94% dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 5,63 juta ton GKG.
Meski demikian, secara kumulatif produksi padi Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG. Angka tersebut masih meningkat 0,07% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Untuk September-November 2026, BPS memperkirakan potensi produksi padi mencapai 12,24 juta ton GKG. Angka tersebut turun 1,66 juta ton GKG atau 11,96% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dengan demikian, produksi padi sepanjang Januari-November 2026 diperkirakan mencapai 56,13 juta ton GKG. Angka tersebut turun 1,63 juta ton GKG atau 2,82% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Penurunan produksi padi juga tercermin dalam produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat. BPS mencatat produksi beras pada Agustus 2026 mencapai 3,15 juta ton, turun 2,90% dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 3,24 juta ton. Namun, secara kumulatif produksi beras Januari-Agustus 2026 mencapai 25,29 juta ton atau meningkat 0,07% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sementara itu, produksi beras pada September-November 2026 diperkirakan mencapai 7,06 juta ton. Angka tersebut berpotensi turun 0,96 juta ton atau 11,95% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dengan demikian, produksi beras sepanjang Januari-November 2026 diperkirakan mencapai 32,34 juta ton. Angka tersebut lebih rendah 0,94 juta ton atau 2,82% dibandingkan periode yang sama pada 2025. (Fal/P-3)
