
NYERI kronis pada area bahu, lutut, hingga punggung sering kali menghambat produktivitas sehari-hari. Untuk mengatasi kondisi tersebut, shockwave therapy kini menjadi salah satu modalitas unggulan dalam program rehabilitasi medik guna membantu pasien kembali bergerak aktif.
Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, dr. Kevin Triangto, menjelaskan bahwa terapi ini bekerja dengan memanfaatkan gelombang akustik. Prosedur ini dilakukan dari permukaan tubuh tanpa memerlukan sayatan atau tindakan invasif lainnya.
“Dalam rehabilitasi, tujuan kita bukan hanya mengurangi nyeri, tetapi membantu pasien kembali bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik sesuai dengan kondisi yang dialaminya,” ujar Kevin dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (30/9).
Mekanisme dan Indikasi Terapi
Penerapan shockwave therapy dilakukan dengan menempatkan alat khusus pada bagian tubuh yang menjadi target, lalu menyalurkan gelombang akustik ke jaringan tersebut. Terapi ini sangat efektif untuk menangani gangguan pada sistem muskuloskeletal, terutama masalah pada jaringan tendon.
Berikut adalah beberapa kondisi medis yang dapat ditangani menggunakan shockwave therapy:
| Area Tubuh / Kondisi | Deskripsi Keluhan |
|---|---|
| Bahu & Lengan | Nyeri kronis, kekakuan, dan keterbatasan gerak. |
| Tennis Elbow | Nyeri di sekitar siku akibat penggunaan tangan berulang. |
| Kaki | Nyeri pada lutut dan tumit (plantar fasciitis). |
| Tulang Belakang | Keluhan nyeri pada area punggung dan leher. |
| Cedera Olahraga | Gangguan pada jaringan lunak dan tendon pasca aktivitas fisik. |
Perhatian Khusus bagi Pengguna Alat Pacu Jantung
Selain masalah muskuloskeletal umum, Kevin menyoroti keluhan yang sering dialami pasien pasca pemasangan Permanent Pacemaker (PPM) atau alat pacu jantung. Pasien dalam kelompok ini kerap merasakan kekakuan dan keterbatasan gerak pada bahu serta lengan di sisi pemasangan alat.
Meski shockwave therapy bisa menjadi solusi, Kevin menekankan perlunya evaluasi medis yang ketat bagi pengguna implan medis.
“Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Sebelum menentukan terapi, kami perlu mengetahui sumber keluhan, kondisi jaringan, riwayat tindakan, termasuk keberadaan alat pacu jantung atau alat implan lainnya,” tegasnya.
Pendekatan Holistik Rehabilitasi
Terapi gelombang akustik ini tidak berdiri sendiri. Dalam program rehabilitasi yang komprehensif, shockwave biasanya dikombinasikan dengan latihan fisik, edukasi pasien, serta modifikasi aktivitas harian.
Kevin mengingatkan bahwa pemeriksaan awal sangat krusial untuk menentukan apakah seorang pasien merupakan kandidat yang tepat untuk terapi ini. Keputusan medis harus didasarkan pada diagnosis yang akurat agar proses pemulihan berjalan optimal dan aman bagi pasien. (Ant/Z-1)
