
GUNUNG Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik berupa luncuran lava pijar yang mengarah ke sejumlah aliran sungai (kali). Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Karangetang periode 29 September 2026, jarak luncur lava pijar tercatat mencapai 500 hingga 1.000 meter dari puncak kawah.
Personel Pos PGA Karangetang, Yappie Fredrik Albert Rombot, menjelaskan bahwa guguran lava pijar teramati keluar dari puncak kawah utara. Aliran lava tersebut terbagi ke beberapa arah sektor dengan jarak luncur yang bervariasi.
Detail Arah Luncuran Lava
Berikut adalah rincian arah aliran guguran lava pijar Gunung Karangetang berdasarkan laporan terbaru:
| Arah Aliran | Lokasi Tujuan (Kali) | Jarak Luncur |
|---|---|---|
| Selatan | – | ± 700 meter |
| Barat & Barat Daya | Kali Pangi, Kinali, Sumpihi, Kiawang | 500 – 1.000 meter |
| Barat Laut | Kali Batuare, Batu Kole, Malebuhe | 500 – 700 meter |
Selain luncuran lava, asap kawah utara juga teramati berwarna putih, kelabu, hingga coklat dengan ketinggian antara 10 hingga 700 meter. Aktivitas kegempaan juga terpantau cukup tinggi, didominasi oleh gempa embusan dan tremor harmonik.
Data Kegempaan Periode Pengamatan
Dalam periode tersebut, terekam sejumlah aktivitas seismik sebagai berikut:
- Gempa Embusan: 99 kali
- Gempa Tremor Harmonik: 46 kali
- Gempa Tremor Nonharmonik: 4 kali
- Gempa Guguran: 3 kali
- Gempa Vulkanik (Dangkal & Dalam): 3 kali
- Gempa Tektonik (Lokal & Jauh): 6 kali
Rekomendasi dan Status Waspada
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini masih menetapkan status Gunung Karangetang pada Level II (Waspada). Masyarakat, pengunjung, maupun wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas atau pendakian di dalam zona prakiraan bahaya.
Zona Bahaya: Radius 1,5 kilometer dari puncak kawah dua (utara) dan kawah utama (selatan), serta area perluasan sektoral ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer.
Pihak berwenang juga mengimbau warga untuk mewaspadai potensi awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat penumpukan material lava yang belum stabil. Sektor yang paling rentan terdampak adalah wilayah selatan, tenggara, barat, dan barat daya. (Ant/I-1)
